Information System Quality Assurance and Control – Outsourcing


Outsourcing

Sampai saat ini, outsourcing masih menjadi perbincangan seru. Di satu sisi  outsourcing masih memang diyakini memiliki banyak kelebihan, namun di sisi lain masih dilihat sebagai sebuah metode yang memiliki banyak risiko. Namun tentu saja, setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana menganalisa kebutuhan outsourcing itu sendiri. Mengadaptasi dari CISA Review Manual 2008, berikut risiko dari outsourcing yang perlu dipertimbangkan.

  • Cost melebihi dari apa yang telah diperkirakan oleh organisasi. Hal ini dapat terjadi jika organisasi tidak berhati-hati meneliti cost yang dicantumkan dalam draft kontrak.
  • Organisasi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan SDM internal. Ketika organisasi memberikan layanan kepada pihak luar, maka tentu saja membuat SDM internal memiliki kesempatan kecil untuk berkembang.
  • Organisasi kehilangan kendali atas TI yang ada. Hal ini tergantung dari layanan apa yang di
  • Kemungkinan kegagalan vendor dalam memenuhi SLA (service level agreement) yang ada. Hal ini harus diantisipasi, artinya harus didefinisikan dengan jelas, apa sanksi yang akan dibebankan kepada vendor ketika SLA tidak terpenuhi.
  • Sulit mengubah perjanjian SLA yang ada maupun perjanjian kontrak lainnya. Hal ini perlu diperjelas dengan vendor, apakah dimungkinkan untuk mengubah perjanjian yang ada walaupun periode perjanjian belum berakhir.
  • Hati-hati terhadap kontrak, karena seringkali kontrak dibuat berdasarkan apa yang dimliki oleh vendor bukan berdasarkan kebutuhan bisnis organisasi.

Sedangkan untuk keuntungan outsourcing yang perlu dipertimbangkan yaitu:

  • Aspek ekonomis, dimana outsourcing dapat menjadi alternatif efisiensi cost. Bagi beberapa organisasi yang tidak memiliki kemampuan kompetemsi dibidang IT, justru outsourcing dapat menjadi solusi hemat dan efisien.
  • Organisasi dapat memfokuskan SDM internal terhadap aspek lain yang menjadi core competence
  • Vendor penyedia layanan outsourcing memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan SDM internal organisasi.
  • Karena vendor sangat sensitif terhadap effort yang ada, maka apa yang dilakukan oleh vendor dapat menjadi best practice bagi organisasi.

Problem Management

Problem Management bertujuan untuk meminimalisasi gangguan terhadap bisnis melalui cara proaktif mengidentifikasikan dan menganalisa potensi penyebab terjadinya insiden atau gangguan, dan mengelola problem atau isu tersebut sehingga tidak akan terjadi di masa depan. Agar tercapai tujuan ini, organisasi perlu memiliki prosedur untuk mengidentifikasikan, meminimalisasi, dan mencegah dampak buruk dari insiden atau gangguan yang mungkin terjadi. Adapun prosedur problem management adalah:

  • Mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan seluruh problem yang mungkin dan/atau sudah terjadi
  • Memutakhirkan berbagai jenis problem yang ada berdasarkan perkembangan teknologi terakhir
  • Memastikan keseluruhan problem tersebut telah teratasi dengan baik sehingga kecil kemungkinannya akan terjadi di masa mendatang

Sementara itu ruang lingkup mengelola problem atau masalah itu sendiri adalah sebagai berikut:

  • Mengkaji atau studi berbagai kasus demi tujuan mereduksi permasalahan melalui pendekatan preventif (misalnya dengan mempelajari tren atau keberadaan insiden di masa lalu)
  • Mengajukan permohonan perubahan terhadap sejumlah hal kepada pihak yang berwenang
  • Mengawasi, menganalisa, dan melaporkan hasil dari resolusi problem
  • Menyediakan informasi terkini mengenai adanya“error” atau kesalahan program serta resolusi perbaikannya sebagai bagian dari manajemen insiden
  • Memastikan tersedianya masukan bagi rencana perbaikan pelayanan yang berkesinambungan

Security Management

Perencanaan dalam manajemen keamanan informasi meliputi proses perancangan, pembuatan, dan implementasi strategi untuk mencapai tujuan. Ada tiga tahapannya yaitu:

  1. strategic planning yang dilakukan oleh tingkatan tertinggi dalam organisasi untuk periode yang lama, biasanya lima tahunan atau lebih,
  2. tactical planning memfokuskan diri pada pembuatan perencanaan dan mengintegrasi sumberdaya organisasi pada tingkat yang lebih rendah dalam periode yang lebih singkat, misalnya satu atau dua tahunan,
  3. operational planning memfokuskan diri pada kinerja harian organisasi. Sebagi tambahannya, planning dalam manajemen keamanan informasi adalah aktifitas yang dibutuhkan untuk mendukung perancangan, pembuatan, dan implementasi strategi keamanan informasi supaya diterapkan dalam lingkungan teknologi informasi.

Ada beberapa tipe planning dalam manajemen keamanan informasi, meliputi :

  • Incident Response Planning (IRP)

IRP terdiri dari satu set proses dan prosedur detil yang mengantisipasi, mendeteksi, dan mengurangi akibat dari insiden yang tidak diinginkan yang membahayakan sumberdaya informasi dan aset organisasi, ketika insiden ini terdeteksi benar-benar terjadi dan mempengaruhi atau merusak aset informasi. Insiden merupakan ancaman yang telah terjadi dan menyerang aset informasi, dan mengancam confidentiality, integrity atau availbilitysumberdaya informasi. Insident Response Planning meliputi incident detection, incident response, dan incident recovery.

  • Disaster Recovery Planning (DRP)

Disaster Recovery Planning merupakan persiapan jika terjadi bencana, dan melakukan pemulihan dari bencana. Pada beberapa kasus, insiden yang dideteksi dalam IRP dapat dikategorikan sebagai bencana jika skalanya sangat besar dan IRP tidak dapat lagi menanganinya secara efektif dan efisien untuk melakukan pemulihan dari insiden itu. Insiden dapat kemudian dikategorikan sebagai bencana jika organisasi tidak mampu mengendalikan akibat dari insiden yang terjadi, dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan sangat besar sehingga memerlukan waktu yang lama untuk melakukan pemulihan.

  • Business Continuity Planning (BCP)

Business Continuity Planning menjamin bahwa fungsi kritis organisasi tetap bisa berjalan jika terjadi bencana. Identifikasi fungsi kritis organisasi dan sumberdaya pendukungnya merupakan tugas utama business continuity planning. Jika terjadi bencana, BCP bertugas menjamin kelangsungan fungsi kritis di tempat alternatif. Faktor penting yang diperhitungkan dalam BCP adalah biaya.

Dampak ERP

Dalam sistem lama, contohnya dalam menanggapi pesanan pelanggan, cara biasa yang dilakukan adalah setelah pelanggan melakukan pesanan yang umumnya masih menggunakan formulir kertas, formulir tersebut berjalan dari satu meja ke meja lain. Selanjutnya pesanan dimasukkan ke dalam komputer bagian satu kemudian dimasukkan lagi ke komputer bagian lain dan seterusnya. Proses ini dapat mengakibatkan kelambatan, kehilangan atau kekacauan data. Dengan penerapan ERP budaya seperti itu menjadi hilang, terganti dengan budaya baru yang lebih moderen dan terintegrasi.

Secara umum, Teknologi Informasi memerlukan kesadaran, perbedaan budaya dan kebutuhan perkembangan Teknologi Informasi ditujukan untuk menghadapi homogenitas lingkungan sekitar. ERP dikonsepkan sebagai sistem teknologi yang terkonstruksi secara sosial yang tercermin dari perilaku, nilai, kepercayaan dan norma pengguna ERP (Molla dan Loukis, 2005).

Molla dan Loukis (2005) menjelaskan dalam makalahnya mengenai kesesuaian budaya dalam sistem perusahaan dan budaya karyawan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil implementasi ERP. Petunjuk persiapan implementasi penting dalam kesejajaran budaya antara sistem ERP dan organisasi perusahaan. Kesadaran untuk menerima budaya ERP dan mengenalkan mekanisme untuk meredakan budaya yang tidak sesuai mungkin dapat meningkatkan kesuksesan proses dan hasil ERP.

Information System Quality Assurance and Control – Manajemen Resiko


Risiko proyek adalah Peristiwa tidak pasti yang bila terjadi memiliki pengaruh positif atau negatif terhadap minimal satu tujuan proyek (waktu, biaya, ruang lingkup, mutu). Risiko mungkin memiliki satu atau lebih penyebab, yang bila terjadi memiliki satu atau lebih dampak. Untuk itu dibutuhkan Manajemen Risiko Proyek yang bertujuan untuk meningkatkan peluang dan dampak peristiwa positif, dan mengurangi peluang dan dampak peristiwa yang merugikan proyek.

Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan risiko proyek:

1. Perencanaan Manajemen Risiko

Pada tahap ini dilakukan proses memutuskan bagaimana mendekati dan melaksanakan aktivitas manajemen risiko untuk proyek. Memastikan tingkat, tipe, dan visibilitas manajemen risiko yang setara dengan risiko dan kepentingan proyek bagi organisasi Menyediakan sumberdaya dan waktu yang memadai untuk aktivitas manajemen risiko. Serta menetapkan basis yang disepakati untuk mengevaluasi risiko.

2. Identifikasi Risiko

Menentukan risiko-risiko yang mempengaruhi proyek dan mendokumentasikan karakteristiknya. Peserta yang terlibat: manajer proyek, anggota tim proyek, anggota manajemen risiko, ahli teknis diluar tim proyek, customer, end user, dan ahli manajemen risiko. Merupakan proses iteratif karena risiko-risiko baru mungkin diketahui sebagai kemajuan proyek melalui siklus hidupnya.

3. Analisis Risiko

Menilai prioritas risiko teridentifikasi menggunakan peluang terjadinya dan dampaknya terhadap tujuan proyek bila risiko itu terjadi. Menilai faktor-faktor lain seperti kerangka waktu dan tolerasi risiko dari kendala biaya, jadwal, ruang lingkup, dan mutu.

4. Perencanaan Respon Risiko

Proses mengembangkan pilihan dan menentukan tindakan untuk meningkatkan kesempatan dan mengurangi ancaman terhadap tujuan proyek. Ini mengikuti analisis risiko kualitatif dan kuantitatif.

5. Pengendalian dan Monitoring Risiko

Proses mengidentifikasi, menganalisis, dan merencanakan risiko-risiko yang baru muncul, melacak risiko teridentifikasi, menganalisis ulang risiko sekarang, memonitor kondisi pemicu rencana kontingensi, memonitor sisa risiko, dan mereview pelaksanaan respon risiko saat mengevaluasi keefektifannya.

Dalam melaksanakan audit kriteria berikut harus diperhatikan:

  • Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut,
  • Penetapan entitas ekonomi dan periode waktu yang diaudit harus jelas untuk menentukan lingkup tanggungjawab auditor,
  • Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi tujuan audit,
  • Kemampuan auditor memahami kriteria yang digunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.

Berikut ini adalah program manajemen risiko pada perusahaan:

Program 1: Perencanaan

Dalam mengembangkan manajemen risiko diperlukan perencanaan yang baik yang meliputi hal-hal berikut:

  1. Menetapkan sasaran yang ingin dicapai
  2. Melakukan evaluasi terhadap persyaratan yang dibutuhkan
  3. Membuat atau menetapkan kebijakan perusahaan dalam manajemen risiko
  4. Mengadopsi guideline toleransi risiko
  5. Merencanakan program manajemen risiko

Program 2: Analisis Risiko

Analisis risiko adalah proses pengumpulan data dan sintesa informasi untuk mendapatkan pemahaman tentang risiko dari suatu perusahaan. Dalam melakukan analisis risiko diperlukan tahapan-tahapan berikut, yaitu:

Menentukan teknik analisis risiko yang sesuai atau tepat. Terdapat berbagai teknik analisis risiko yang dapat digunakan, namun pemilihan metode yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat.

  1. Mengidentifikasi bahaya disemua area operasi.
  2. Melakukan estimasi risiko dari bahaya yang sudah di identifikasi sebelumnya.
  3. Mengidentifikasi risiko-risiko besar / major yang dapat menimbulkan bencana bagi perusahaan.
  4. Melakukan studi sensitivitas dari risiko yang ada.

Program 3: Kontrol

Setelah melakukan analisis risiko, maka akan didapatkan gambaran risiko yang ada secara keseluruhan. Hasil analisis risiko dapat berbentuk kualitatif ataupun kuantitatif tergantung dari teknik atau metode yang digunakan. Analisi risiko juga akan memberikan gambaran tingkat risiko dari berbagai potensi bahaya yang ada. Dalam tahapan kontrol ini, kita dapat menentukan risiko mana yang akan diprioritaskan untuk dikontrol atau semua potensi risiko akan dikontrol. Dalam sistem kontrol ada beberapa program yang harus dijalankan, yaitu:

  1. Melakukan identifikasi perbaikan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan tingkat risiko.
  2. Melakukan evaluasi terhadap opsi-opsi program pengurangan risiko.
  3. Menentukan life cycle cost untuk opsi-opsi program pengurangan risiko.
  4. Menentukan program pengurangan risiko yang paling efektif baik dari sisi biaya maupun pelaksanaan.

Program 4: Monitoring

Monitoring atau pengawasan adalah komponen yang sangat penting dalam penerapan sistem manajemen risiko. Tujuan dari pengawasan adalah untuk memastikan bahwa program yang sudah direncanakan berjalan sebagaimana mestinya. Monitoring dapat dilakukan dalam bentuk audit dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Mengembangkan program audit.
  2. Mengimplementasikan program audit.
  3. Memberikan umpan balik dari temuan hasil audit.
  4. Mengidentifikasi perubahan yang membutuhkan dilakukannya analisis risko ulang.

Program 5: Komunikasi

Meskipun program kominikasi ditempatkan pada urutan paling akhir, namun pada pelaksanaanya program komunikasi sudah dimulai sejak awal perencanaan. Keberhasilan dari manajemen risiko juga sangat ditentukan oleh program komunikasi ini. Ada beberapa bentuk komunikasi yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Memberikan informasi kepada semua level manajemen untuk mendapat dukungan serta keterlibatan mereka.
  2. Mengkomunikasikan semua program manajemen risiko kepada semua level yang ada dalam perusahaan.
  3. Semua dokumen program termasuk SOP, Kebijakan dan laporan analisis risiko harus dibuat dalam format yang mudah dimengerti.
  4. Memberikan tekanan terhadap keterbatasan atau asumsi-asumsi yang dibuat.

Untuk mengembangkan program-program manajemen risiko tersebut diatas, diperlukan pemahaman yang baik dan tepat terhadap risiko yang ada. Untuk mendapatkan pemahaman dari risiko yang ada, maka analisis risiko harus didasari oleh pengetahuan bahaya proses baik. Ada tiga pertanyaan dasar yang dapat digunakan untuk memahami risiko, yaitu:

  1. What can go wrong?. Fondasi dalam melakukan analisis risikonya adalah metode analisis yang digunakan.
  2. How likely is it? Fondasi dalam melakukan analisis risikonya adalah pengalaman historis kecelakaan.
  3. What are the impacts? Fondasi dalam melakukan analisis risikonya adalah pengetahuan dan intuisi.

Kedalaman analisis risiko dapat bervariasi, tergantung dari potensi bahaya yang ada. Adakalanya analisis risiko sederhana sudah cukup memadai untuk menentukan tingkat risiko dari suatu potensi bahaya, naman adakalanya diperlukan analisis risiko yang rumit atau kuantitatif untuk menentukan tingkat risiko dari potensi bahaya lain.

Konversi data merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendali baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedurnya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

Fenomena kegagalan pada konversi sistem terjadi karena:

  1. Sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan user, karena proses investigasi, analisa design sistem yang dikembangkan kurang tajam.
  2. Adanya perilaku yang cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan.
  3. Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru (komputerisasi) diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan. (pengurangan pegawai)..
  4. Tidak dibarengi dengan ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.
  5. Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang meliputi aktivitas :
  • Hardware, software and services acquisition
  • Software development or modification
  • End user training
  • System documentation & Conversion methode : pilot project, paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

Rencana Uji dokumen dokumen test plan digunakan digunakan untuk mendukung mendukung tujuan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi informasi proyek yang ada dan komponen perangkat lunak yang harus diuji
  2. Daftar Persyaratan direkomendasikan untuk Test
  3. Merekomendasikan dan menjelaskan strategi pengujian yang akan digunakan
  4. Mengidentifikasi Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan diperlukan dan memberikan memberikan perkiraan dari upaya pengujian
  5. Daftar unsur-unsur deliverable dari proyek yang diuji

Referensi:

Audit dan Kontrol Sistem ERP


RINGKASAN JURNAL MAKALAH DAN JURNAL PENDUKUNG (INFORMATION SYSTEM QUALITY AND ASSURANCE – GA1)

Makalah/ Journal yang dipakai dalam soal ini adalah:

Severin V. Grabski, Stewart A. Leech, Bai Lu. (2001). Risks And Controls in The Implementation of ERP Systems. The International Journal of Digital Accounting Research. Volume 1. Number 1. 51-78. (http://dx.doi.org/10.4192/1577-8517-v1_3, Diakses Tanggal 22 Maret 2017)

Ringkasan Jurnal Makalah dan Jurnal Pendukung

Sumber: Severin V. Grabski, Stewart A. Leech, Bai Lu. (2001). Risks And Controls in The Implementation of ERP Systems. The International Journal of Digital Accounting Research. Volume 1. Number 1. 51-78. (http://dx.doi.org/10.4192/1577-8517-v1_3, Diakses Tanggal 22 Maret 2017)

Dalam journal yang dikemukakan oleh Severin V. Grabski dkk, implementasi sistem ERP memiliki masalah untuk organisasi. Dengan melakukan pengontrolan dan meminimalisasikan risiko bisnis, maka skenario untuk implementasi sistem ERP mencapai keberhasilan. Ketersediaan dari software Enterprise Resource Planning (ERP) (seperti: SAP, JDE, Peoplesoft, Oracle, BAAN) terintegrasi dengan sistem manajemen basis data sejak tahun 1970 dan 1980. Implementasi ERP berbeda dari analisis sistem tradisional dan rancangan proyek, dimana perbedaannya terletak di skala, tingkat kompleksitas, dampak organisasi, dan biaya proyek ERP dan dampak terhadap bisnis jika proyek tersebut tidak berhasil. Implementasi ERP akan berpengaruh pada keseluruhan organisasi, dimana proyek tradisional hanya terbatas pada area tertentu. Maka dari itu, organisasi menggunakan “best practice” dalam mengembangkan solusi perangkat lunak. Selain itu, implementasi ERP lebih membutuhkan personel untuk mempelajari bahasa pemrograman yang baru dan menghasilkan paradigm komputasi organisasi baru. Akibatnya, biaya proyek ERP secara signifikan lebih mahal daripada proyek tradisional, dan kegagalan menyebabkan penutupan organisasi.

Dengan implementasi sistem ERP, tetap membutuhkan pihak untuk meminimalisasikan risiko kegagalan audit ketika identifikasi risiko yang melekat, kontrol risiko dan deteksi risiko dengan pengaturan yang sudah diterima dan tingkat risiko audit secara keseluruhan yang berfungsi terhadap risiko lain. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa risiko berkaitan dengan konsep kesuksesan informasi meliputi tingkat kepuasan dengan proses pengembangan, kepuasan dengan penggunaan sistem, kepuasan dengan kualitas sistem, dan dampak sistem informasi dalam organisasi. Risiko yang berkaitan dengan kesuksesan proyek sistem secara keseluruhan adalah tingkat kompleksitas aplikasi, kurangnya pengalaman pengguna, dan kurangnya kejelasan peran dari definisi masing-masing peran individu dalam proyek. Kurangnya dukungan pengguna secara signifikan memiliki dampak organisasi, sedangkan teknologi baru mempengaruhi kepuasan kualitas sistem. Pengembangan sistem berpengaruh terhadap keahlian tim organisasi, kompleksitas aplikasi dan pengalaman pengguna, dan penggunaan sistem mempengaruhi kejelasan peran dan pengalaman pengguna. Dalam hal ini, risiko dan kontrol lebih berfokus secara teknologi pada pengembangan software dibandingkan dengan implementasi paket solusi yang membutuhkan perekayasaan proses bisnis dan modifikasi software yang terbatas.

Dalam memaksimalkan peluang kesuksesan, maka risiko harus diidentifikasikan dan proses pengontrolan terkait untuk meminimalkan risiko tersebut. Kurangnya tingkat keselarasan antara strategi, struktur, dan proses organisasi dan pemilihan aplikasi ERP adalah salah satu risiko yang diidentifikasi secara berulang. Selain itu, sistem ERP tidak bisa meningkatkan kinerja perusahaan kecuali organisasi restrukturisasi aktivitas operasionalnya. Proyek implementasi ERP merupakan inisiatif bisnis untuk meningkatkan strategi (seperti, pemahaman bisnis, cara mengirimkan nilai, dll) yang berorientasi hasil untuk mencapai sasaran.

Kurangnya kontrol selama proyek terjadi dikarenakan:

–       Kurangnya kontrol dalam tim proyek menyebabkan pengambilan keputusan bersifat desentralisasi dan hasil keputusan yang tidak efektif.

–       Kurangnya kontrol antar karyawan terhadap sistem operasional yang berpengaruh terhadap tanggung jawab karyawan di level bawah.

Tingkat kompleksitas dalam proyek menyebabkan biaya besar ketika akuisisi hardware, software, biaya implementasi, biaya konsultasi dan pelatihan. Organisasi kurang memiliki kemampuan manajemen kontrol dan kemampuan BPR yang dibutuhkan. Ketika organisasi beralih ke lingkungan sistem ERP, maka harus menghadapi hubungan karuawan dengan dilengkapi dengan kemampuan baru dan tanggung jawab. Berdasarkan hasil review, terdapat 5 risiko bisnis utama terkait implementasi sistem ERP, yaitu:

–       Kurangnya keselarasan antara sistem informasi baru dan proses bisnis

Untuk mencegah risiko tersebut, maka hal yang dilakukan adalah perekayasaan kembali proses bisnis sebagai business initiative, mengembangkan detail spesifikasi yang dibutuhkan, melakukan proses pengujian sistem terkait dengan implementasi sistem dan mengontrol kinerja sistem.

–       Kehilangan kontrol terkait pengambilan keputusan desentralisasi

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko tersebut adalah formulasi komite pengarahan organisasi, pertemuan oleh para sponsor proyek, dan keterlibatan auditor internal yang meminimalkan risiko bisnis terkait dengan kemungkinan kehilangan kontrol dari implementasi sistem ERP.

–       Risiko dikaitkan dengan kompleksitas proyek

Untuk meminimalkan risiko berkaitan dengan tingkat kompleksitas proyek adalah formulasi komite pengarahan, dukungan manajer senior, pertemuan sponsor proyek, pengembangan rencana implementasi yang detail, manajemen proyek, tim proyek dengan kemampuan yang sesuai, dan keterlibatan baik konsultan maupun auditor internal.

–       Berpotensi kekurangan kemampuan pihak internal organisasi

Tindakan untuk mengatasi risiko tersebut adalah keterlibatan konsultan eksternal dalam proyek sistem ERP, membangun hubungan antara konsultan dan tim proyek, dan pelatihan terkait adalah faktor kritis.

–       Terjadi penolakan pengguna

Tindakan yang dapat diambil adalah memastikan bahwa pengguna peduli terhadap dampak proyek ERP sehingga mereka memiliki tanggung jawab, mengembangkan rencana komunikasi, dan isu pelaporan reguler untuk memastikan pengguna memiliki informasi.

Penggunaan sistem lama sebelumnya tidak memiliki feedback dari penggunanya sehingga tidak ada informasi yang akurat dan tepat waktu. Jika sistemnya bersifat user-friendly namun menghasilkan laporan yang berkualitas jelek. selain itu berpengaruh terhadap biaya dan strategi implementasi, kemampuan pemrosesan operasional finansial, kemampuan untuk mengurangi penggunaan kertas beralih ke bentuk digital. Proyek implementasi ERP berbeda dengan proyek pengembangan proyek dimana faktor risikonya berupa perubahan teknologi, perubahan organisasi, dan kompleksitas proyek.

Berikut ini adalah tabel 3, tabel matriks risiko implementasi ERP dan kontrol yang terkait.

Beberapa limitasi dalam pembelajaran ini adalah

–       Metode penelitian studi kasus digunakan untuk investigasi satu bagian

–       Investigasi dari proyek NFMS sedikit setelah implementasi NFMS dimana memiliki pandangan berbeda tentang kontrol kritis dan risiko

–       Proyek NFMS hanya berhasil diimplementasikan sementara

–       NFMS terbatas pada satu modul, meskipun paket ERP banyak

Tindakan untuk penelitian berikutnya adalah

–       Ketika penelitian menemukan tambahan bukti pada risiko dan diasosiasikan dengan kontrol dalam implementasi ERP, menambah pemahaman tentang risiko dan kontrol terhadap organizational setting.

–       Penelitian berikutnya bisa memeriksa korelasi/ hubungan antara risiko dan kontrol yang diidentifikasi lewat survey dalam organisasi yang mengimplementasikan sistem ERP.

–       Pembelajaran longitudinal dari implementasi sistem ERP, dan penggunaan subsekuen, akan menyediakan bukti dari munculnya risiko dan kontrol.

–       Tugas berikutnya dibutuhkan dalam kontribusi risiko bisnis dan kontrol terkait untuk kesuksesan implementasi sistem ERP.

–       Penelitian lebih lanjut bisa memeriksa keterlibatan audit internal lebih diperluas dan tepat waktu dalam implementasi sistem ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mustafa dkk terhadap 220 karyawan, melakukan investigasi Critical Success Factor (CSF) dan dampak dari implementasi dari sistem ERP. Sistem ERP adalah sekumpulan dari modul-modul software yang terintegrasi dengan database yang memfasilitasi organisasi untuk mengelola penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien dengan otomasi dan kerja sama antar proses bisnis, klasifikasi data dalam organisasi dan pengaksesan informasi secara real-time. Keuntungan dari penggunaan sistem ERP adalah tingkat efisiensi bertambah, meningkatkan kualitas, produktivitas, dan keuntungan dengan peningkatan kapabilitas, juga menghasilkan dan mengkomunikasikan informasi secara akurat dan tepat waktu. Walaupun keuntungannya banyak, namun tidak semua organisais berhasil dengan proyek ERP. Dalam penelitian ini, dikemukakan bahwa 90 % proyek ERP terlambat dari jadwalnya atau melebihi budget dalam hal implementasi dan hanya 30% keuntungannya yang berhasil diraih.

Organisasi mulai menggunakan metode CSF yang dapat digunakan untuk identifikasi faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi ERP dan kegagalannya. Berikut ini adalah pengukuran yang digunakan dalam CSF ini.

ERP Implementation Success ditunjukkan dalam hasil proses bisnis adalah

  1. Efisiensi proses bisnis berupa pengurangan waktu dan biaya yang berlebihan, meningkatkan produktivitas dari proses bisnis, dan meningkatkan kualitas dan layanan pelanggan
  1. Efektivitas proses bisnis berupa meningkatkan pengambilan keputisan dan perencanaan, dan manajemen sumber daya dan pengiriman, dan tingkat fleksibilitas melalui pembangunan
  1. Fleksibilitas proses bisnis dalam infratsruktur TI untuk mengurangi biaya TI, mengklasifikasikan produk dan layanan, dan membangun serta mengelola hubungan eksternal kepada pelanggan dan pemasok

Implementasi ERP mendukung organisasi menghasilkan strategi kompetitif meskipun tidak semua proyek berhasil. Dengan proyek implementasi proyek, maka organisasi mendapatkan masukan berupa nilai investasi, dapat meningkatkan pengalaman. Karena itu, organisasi perlu memperhatikan faktor-faktor kesuksesan implementasi sistem ERP. Untuk penelitian berikutnya, organisasi harus memahami persepsi dari pengembang sistem sehingga dapat ditemukan pengaruh faktor CSF terhadap sistem ERP organisasi.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535.(https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Ahmed dkk, sistem ERP adalah software yang komprehensif yang dirancang untuk mengintegrasikan proses bisnis dan fungsinya. Sistem ERP mengkombinasikan penyimpanan data yang berkaitan dengan data finansial, penjualan, dan sumber daya. Proyek adopsi ERP memiliki pengukuran dan struktur tersendiri yang membutuhkan pengambilan keputusan secara hati-hati. Dalam mengadopsi sistem ERP dalam organisasi, perlu memperhatikan off-the-shelf application sehingga teknologi yang diimplementasikan bersifat kompleks.  Meskipun sistem ERP memiliki keunggulan kompetitif, tetapi tingkat kegagalannya juga tinggi. Salah satu atribut pentingnya adalah mampu mengotomatisasikan dan mengintegrasikan proses bisnis organisasi, berbagi data dan praktik ke seluruh organisasi, dan menghasilkan dan mengakses informasi secara real-time. Sistem ERP merupakan paket solusi dengan sekumpulan proses yang terkomplikasi. Sistem ERP ini berukuran besar yang melibatkan pemilihan pihak vendor ERP, membangun rekayasa, implementasi, dan evaluasi proses bisnis terhadap sister ERP. ERP berguna untuk mengurangi biaya operasional, meningkatkan efisiensi proses, meningkatkan responsive pelanggan, dan menyediakan informasi hasil keputusan yang terintegrasi. Kemudian, sistem ERP ini memiliki proses yang sesuai standard dan sebagai best practice untuk memastikan kualitas dan mudah diprediksi dalam bisnis. Dalam melakukan sistem ERP ini, organisasi darus mampu menghadapi perubahan yang terjadi dalam struktur dan budaya organisasi sehingga mengundang pro dan kontra dari adopsi sistem tersebut. Karena itu, organisasi harus mempersiapkan diri dengan manajemen perubahan.

Terdapat batasan-batasan yang harus dipertimbangkan oleh organisasi, yaitu: manajemen sumber daya manusia dan kapabilitas, koordinasi antar fungsional organisasi, fitur dan konfigurasi software ERP, manajemen pengembangan software dan proyek, manajemen perubahan, dan sifat kepemimpinan organisasi, Juga ada terjadi penolakan pengguna terhadap perubahan yang trejadi. Terdapat 11 faktor yang diidentifikasikan sebagai faktor CSF tersebut adalah

–       Kerja tim ERP dan komposisinya

–       Dukungan manajemen top

–       Rencana dan visi bisnis

–       Komunikasi yang efektif

–       Manajemen proyek

–       Keberhasilan dalam proyek

–       Sistem bisnis dan aset yang terkait

–       Program dan budaya terhadap manajemen perubahan

–       Business Process Reengineering (BPR) dan kustomisasi minimum

–       Pengembangan software

–       Pengujian/ testing dan troubleshooting

–       Monitoring dan evaluasi terhadap kinerja

–       Tingkat kualitas sistem

–       Tingkat kualitas informasi

–       Kualitas vendor/ konsultan

–       Dampak individu

–       Dampak terhadap dunia kerja

–       Dampak terhadap organisasi

Organisasi lebih mudah mendefinisikan sasaran yang ingin dicapai melalui sistem, tentang cara fungsionalitas sistem bisa mencapai sasaran tersebut, dan cara untuk kustomisasi, konfigurasi, dan secara teknis implementasi paket. Organisasi perlu melakukan analisis terhadap laporan keuangan dan balance sheet untuk mengidentifikasikan risiko yang dapat muncul. Selama proses implementasi sistem ERP berlangsung, proses transfer pengetahuan sangat penting. Rekomendasi yang dapat ditawarkan adalah membuat daftar vendor ERP yang akan dipilih oleh organisasi, yang nantinya dapat dikelola oleh bagian administrasi. Selain itu, organisasi harus mempertimbangkan proses investigasi sistem yang masih kurang detail sehingga pembahasannya masih di ruang lingkup yang bersifat general saja.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Jian Guo Wan dan Ting Liao Li, pengembangan teknologi informasi dan permintaan manajemen rantai suplai, berdasarkan pada sistem informasi enterprise dalam perkembangan trend, sebab manajemen rantai suplai merupakan ide utama dari ERP. Salah satu penggunaan sistem ERP adalah software SAP, yang sudah banyak diterapkan oleh organisasi. Diperlukan proses audit untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja organisasi. Banyak metode evaluasi yang dilakukan terhadap sistem ERP dimana semuanya menggunakan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, terdiri dari

  1. ABCD Checklist, meliputi aspek teknologi, integritas data, pendidikan dan pelatihan, dan penggunaan sistem.
  1. Balance scorecard, untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja ERP dan melihat pengaruh nilai investasi yang dihasilkan secara ekonomi.
  1. Metode weighted average, lebih simple dan intuitif meliputi kapasitas teknis, kapasitas manajerial, dan elemen evaluasi efisiensi, pembangunan evaluasi implementasi ERP.
  1. Evaluasi komprehensif fuzzy
  1. Data Envelopment Analysis (DEA)
  1. Analytic Hierarchy Process (AHP)

Proses audit terhadap kinerja secara kuantitatif, terdiri dari

  1. System utilization, meliputi aspek kondisi user login dan tingkat settlement online.
  1. Data quality, meliputi aspek kualitas master data dan kualitas data secara interface.
  1. Tingkat efektivitas dari kontrol sistem, meliputi aspek pencapaian nilai kontrol bisnis dan validitas dari kontrol data.

Dari proses audit yang dilakukan melalui metode kuantitatif ditemukan bahwa masalah bahwa pengguna kurang menggunakan fitur SAP secara lengkap. Hal ini menyebabkan perusahaan petroleum sia-sia melakukan pembelian yang mahal. Selain itu, perusahaan tidak terlalu menggunakan modul pembelian dan proses lainnya dalam sistem sehingga mengakibatkan arus kas yang mengalir tidak balance, terjadi kurangnya kontrol sistem dimana terdapat masalah error dalam master data dan data interface. Karena itu, dibutuhkan proses analisis lebih mendalam dan detail sehingga dapat memberikan hasil kuantitatif yang lebih pasti.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519.(http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Maria dkk, adopsi sistem ERP saat ini sedang trend dikarenakan informasi yang dihasikan secara real-time dalam sistem ERP membantu organisasi menghadapi proses transaksi yang lebih banyak. Alasan mengadopsi sistem ERP ini adalah meningkatnya permintaan terhadap informasi yang real-time, untuk memperoleh informasi dalam proses pengambilan keputusan, dan integrasi aplikasi dalam mengimplementasikan ERP. Proses evaluasi terhadap sistem ERP sangat penting untuk menentukan nilai investasi yang disetujui dalam implementasi sistem ERP tetapi juga memberikan keuntungan lebih dari aspek lainnya. Pengembangan teknologi informasi yang baru dan proses rekayasa bisnis kembali sering terjadi perubahan strategi yang dikaitkan dengan dukungan TI organisasi. Implementasi ERP ini merupakan integrasi secara teknis dalam hal software, hardware, dan prosesnya dimana objektifnya adalah untuk mengontrol informasi secara keseluruhan dalam organisasi dan memperoleh keuntungan kompetitif. Oleh karena itu, sistem ERP ini dianggap sebagai solusi terhadap kebutuhan informasi. Implementasi sistem ERP ini melibatkan sumber daya manusia dengan perubahan proses, sumber daya, dan teknologi yang kompleks, penolakan terhadap perubahan, risiko dan biaya, kurangnya pelatihan, nilai investasi dan staff, membuat adopsi ini semakin sulit. Karena itu, sangat penting bagi organisasi mempedulikan isu faktor keberhasilan terkait sistem ERP sebelum implementasi sistem ERP. Karena itu, sistem ERP tidak fit untuk diterapkan dan terjadi kesenjangan sehingga tidak terjadi keselarasan antar fungsi modul-modul ERP dengan kebutuhan organisasi. Kesenjangan ini berasal dari kapabilitas pemrosesan fungsional ERP, format data, konten dari output organisasi, dan kebutuhan pengguna. Implementasi ERP ini harus dilengkapi dengan dukungan sumber daya manusia yang sudah siap menghadapi perubahan. Karena itu, diperlukan perencanaan ERP secara hati-hati, kejelasan sasaran strategis, kepemimpinan yang kuat, komitmen, dan partisipasi manajemen top, manajemen proyek yang jelas, keselarasan antara struktur, proses, dam ERP, tim implementasi, pelatihan yang ekstensif.

Sebagai tambahan dampak positif sistem ERP adalah meningkatnya sifat fleksibilitas dalam menghasilkan informasi dan meningkatkan kualitas laporan dan laporan keuangan. Alasan ketika organisasi ingin mengimplementasikan sistem ERP adalah

–       Kebutuhan organisasi untuk tetap kompetitif.

–       Kebutuhan bertambahnya permintaan informasi yang real-time, untuk memperoleh informasi dalam proses pengambilan keputusan dan integrase aplikasi.

–       Kebutuhan untuk mengimplementasikan rencana bisnis yang baru, untuk mengurangi biaya dan meningkatkan penjualan

–       Kebutuhan mengintegrasikan semua informasi melalui variasi sistem sehingga membentuk budaya organisasi tersendiri berdasarkan sistem yang terintegrasi.

–       Lebih simple untuk menyerupai organisasi internasional yang modern, dalam hal manajemen, sistem sumber daya manusia, dan produksi.

Selain itu, sangat penting bagi organisasi untuk transfer praktik TI secara otomatis melalui sistem ERP. Terkadang sektor publik yang berukuran kecil hanya berfokus pada sebagian kecil modul ERP saja sehingga kurang terintegrasi karena sistem ERP lebih lengkap jika dibeli dalam satu paket sistem ERP. Terjadi perubahan budaya organisasi dan tingkat kompleksitas yang dimiliki dalam sistem ERP karena harus melakukan multiple ERP module sebab modul yang dibeli sebagian saja. Hal ini berkaitan dengan kurangnya dukungan dan komitmen dari manajemen top. Sebelum melakukan implementasi sistem ERP, maka pertanyaan yang harus disiapkan dalam organisasi adalah

  1. Mengapa organisasi memilih mengadopsi sistem ERP?
  1. Apa bentuk motivasi penerapan ERP dalam organisasi pribadi maupun publik?
  1. Modul manakah yang harus diimplementasikan?

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa modul yang paling banyak diimplementasikan adalah Financial Accounting, Material Management, dan Controlling yang berlaku dalam jangka waktu tertentu saja sebab harus mensinkronisasikan antar sistem. Penelitian ini memiliki limitasi adalah masih terdapat peluang bisnis yang dapat diidentifikasikan nantinya, terdapat penggunaan sistem tradisional yang dikaitkan dengan sistem ERP yang sudah terkomputerisasi, hanya sedikit perusahaan yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut, modul yang dikembangkan masing-masing perusahaan masih terbatas pada modul-modul tertentu.

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39.(https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Berdasarkan sumber informasi yang dilakukan oleh Jian Cao dkk, Enterprises Resource Planning Systems (ERPS) sebagai pilihan terbaik kedepannya untuk proses rekonfigurasi dan ekstensi sistem dengan proses pemeriksaan longitudinal sehingga kinerja dan hasil dari sistem tersebut untuk menghasilkan peluang bisnis dengan bukti-bukti melalui penelitian ini. Sistem ERP ini merepresentasikan nilai investasi TI dalam organisasi. Organisasi harus berhadapan dengan upgrade, pengembangan modul baru, peralihan pihak vendor, dan rekonfigurasi atau ekstensi sistem lainnya melalui hasil survey yang dilakukan. Melihat pentingnya penelitian sistem informasi, maka teori pilihan TI terbaik untuk mengakses dan mengelola proses follow-up dalam jangka waktu panjang terhadap peluang investasi dalam proyek TI berskala besar, Proyek kompleks dengan tingkat ketidakpastian tinggi memiliki pilihan ke depannya untuk proses perbaikan yang berkelanjutan dalam penggunaan sistem yang telah diadopsi dan diimplementasikan. Organisasi secara cepat mengadopsi inovasi teknologi untuk mencapai keuntungan kompetitif. Organisasi melakukan proses evaluasi terhadap platform software dimana manajemen lebih bersifat fleksibilitas. Selain itu, ERPS organisasi sebagai paket software yang memiliki aplikasi multi-fungsional. Tingkat fleksibilitas dalam hal manajemen meliputi fleksibilitas terhadap proses penerimaan sistem baru dan fleksibilitas terhadap penentuan penggunaan sistem ke depannya. Untuk melakukan tracking terhadap sasaran dan memaksimalkan nilai investasi, maka manajemen secara berkelanjutan mengevaluasi informasi baru dan mengambil tindakan korektif ketika risiko terjadi sehingga risiko tersebut dapat terselesaikan dengan membangun kapasitas sumber daya yang memadai dan mencegah buffer risk. Penelitian berikutnya yang dapat dikembangkan adalah pemeriksaan faktor pendorong lingkungan perubahan terkait proses kontrol organisasi, berupa kinerja vendor dan reaksi dari pelanggan dan kompetitor, terkait dengan pencapaian sasaran organisasi.

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Dalam penelitian yang dilakukan Heber dkk, proses implementasi sistem ERP berhubungan dengan identifikasi variabel (sasaran organisasi, aturan bisnis, proses bisnis, aktor, sumber daya dan konsep unik untuk mendukung variabel tersebut). Agen utama melibatkan perusahaan pelanggan dan layanan konsultasi. Dikatakan bahwa faktor kesuksesan implementasi ERP tergantung pada kemampuan layanan konsultasi. Keselarasan antara kemampuan organisasi baik elemen organisasi maupun teknikal memungkinkan organisasi memiliki keuntungan kompetitif melalui strategi dan mekanisme integrasi. Selama proses implementasi ERP, proses transfer pengetahuan yang efektif diarahkan dengan kompetensi pengetahuan dan proses perbaikan terhadap proses tersebut sehingga fit antara sistem ERP dengan proses organisasi. Subjek penelitian berikutnya berfokus pada manajemen pengetahuan dengan mengembangkan framework untuk implementasi terhadap manajemen pengetahuan dan kebutuhan bisnis. Sasaran organisasi dan prioritasnya harus diidentifikasikan melalui manajemen proyek dan program pelatihan dan pendidikan. Dalam penelitian ini, diidentifikasikan empat fase implementasi ERP yang terhubung dengan faktor CSF dalam hal kesuksesan kritis, orang, dan ketidakpastian.

Pendekatan terintegrasi mengenai sistem ERP adalah rancangan terhadap model terstruktur ERP, pengembangan dan kustomisasi ERP melalui sistem konfigurasi, dan aktivitas kontrol dan simulasi kejadian diskrit. Kepemimpinan, manajemen perubahan, dan program pelatihan adalah kunci kesuksesan implementasi ERP. Computer Integrated Manufacturing Open System Architecture (CIMOSA) memperkenalkan fungsi pemodelan, aspek informasi dan organisasi. Architecture of Integrated Information System (ARIS) meningkatkan integrasi proses, representasi pandangan yang berbeda, data organisasi dan kontrol. Purdue Enterprise Reference Architecture (PERA) fokus pada siklus hidup organisasi. Perubahan proses yang terjadi selama implementasi sistem ERP mendukung inovasi dalam hal produk, proses, atau layanan. Limitasi dalam penelitian ini adalah model kerangka yang dikembangkan berada dalam suatu ruang lingkup.

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317.(http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Dalam sumber informasi oleh Amel dan Imene, dikatkan bahwa manajemen pengetahuan berpengaruh terhadap kontribusi ERP dalam hal proses pengambilan keputusan dengan melakukan proses observasi dan interview. Dalam pendekatan yang dilakukan oleh peneliti, terdapat empat tahap proses pengambilan keputusan adalah

  1. Jalur intelligence, berhubungan dalam hal pemahaman masalah dengan mendapatkan informasi perusahaan dan lingkungannya untuk deteksi kesenjangan antara perkiraan dengan aktual.
  1. Jalur conception, adalah formulasi solusi dan dampak yang diprediksi.
  1. Jalur selection, ketika pengambil keputusan memilih tindakan yang berhubungan dengan solusi.
  1. Jalur implementasi, pengambil keputusan mengontrol aplikasi dari keputusan dan mengikuti dampak tersebut.

Setelah mengambil keputusan tersebut, organisasi melakukan program training yang melibatkan domain (manajemen penjualan, manajemen inventori, manajemen pembelian, akuntansi, dan lain-lain). Hal ini dilakukan untuk menilai siklus karyawan yang inisiatif. Kemudian, dilakukan juga analisis terhadap mode konversi antara pengguna ERP, berkolaborasi dengan teknikal, fungsional dan masalah sumber daya manusia, sering untuk mencoba menemukan solusi relevan. Organisasi juga menggunakan faktor pemodelan SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) untuk melihat keberhasilan dan kegagalan proses transfer pengetahuan dimana terjadi konversi dari informasi jadi pengetahuan. Sistem ERP ini disebut sebagai steering tool, pada tingkat layanan pengguna, mengoptimalkan proses bisnis organisasi. Sistem ERP diterima sebagai monitoring tool yang melibatkan ukuran, preservasi, dan proses follow-up data. Kegagalan terhadap penggunaan ERP berhubungan dengan masalah dalam manajemen pengetahuan sehingga terjadi deficit skill/ kekurangan kemampuan, penolakan untuk perubahan, dan absennya staff turnover. Sebaiknya, sistem ERP dilibatkan dengan manajemen pengetahuan yang terlibat dengan membuat, menyimpan, dan menyuplai pengetahuan secara internal dan eksternal, yang mengfasilitasi deteksi masalah dengan perbedaan signal. Dalam hal ini, ERP memungkinkan kontrol terhadap aplikasi pengambilan keputusan dan dampak dari proses follow-up. Kesimpulannya, pengambil keputusan menggunakan berbagai tipe pengetahuan (tacit dan eksplisit) yang tersedia dalam organisasi. Objektif dari pembelajaran ini adalah menentukan kontribusi ERP dalam hal proses pengambilan keputusan. Limitasi dari pembahasan tersebut adalah preliminary result yang masih kurang karena ruang lingkup yang digunakan masih kecil.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier.(http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Dalam metode survey dilakukan oleh Chou dkk, sebanyak 659 pengguna ERP dalam organisasi yang ditentukan dalam hal pentingnya penggunaan sistem ERP. Sistem ERP adalah paket software komersial yang memiliki data transaksi yang terintegrasi dan proses bisnis dalam semua area fungsional area. Contohnya, SAP dan Oracle. Tidak hanya penggunaan sistem oleh Pengguna akhir untuk mengeksekusi ERP sehingga proses transaksi lebih efektif yang dapat diaplikasikan ke seluruh area fungsional, tetapi juga berpotensi memfasilitasi eksekutif dengan beberapa cara: mengelola sumber daya secara efektif, mendukung pengambilan keputusan yang cepat, dan meningkatkan keuntungan kompetitif. Namun, terdapat kegagalan juga dalam mencapai sasaran bisnis dari pengontrolan sistem ERP yang masih kurang. Dalam proses implementasi ERP, pengguna sering mengoperasikannya pada level rendah terhadap penggunaan fitur dan inisiasi ekstensi fitur yang tersedia, berupa fungsi “informatting”, yaitu pengambilan keputusan, integrasi kerja, dan layanan pelanggan. Penggunaan ERP membutuhkan usaha organisasi lebih besar untuk menambah keuntungan dari sistem. Jadi, sangat penting untuk memaksimalkan keuntungan ERP dalam fase post-implementation. Hal ini menandakan proses pembelajaran lebih lanjut setelah implementasi sistem informasi. Tingkat kompleksitas, skala besar, terintegrasi, dan hubungan karakteristik lainnya sangat penting namun sulit dilakukan. Self-efficacy merupakan salah satu persepsi individu unruk memahami kesuksesan menjalankan tugas organisasi dalam mengelola sistem ERP yang mempengaruhi nilai motivasi dan behavior/ sikap. Sebelum melakukan implementasi sistem ERP, maka pengguna harus mengikuti program pelatihan yang berkaitan dengan implementasi tersebut. Dalam penggunaan sistem ERP ini melibatkan semua bagian departemen atau area fungsional organisasi. Pengambilan keputusan dalam sistem ERP ini bisa digunakan untuk mengatasi masalah dengan menyediakan query responses, laporan, analisis statistika, analisis multi-dimensional. Integrasi kerja merujuk ke penggunaan sistem ERP untuk merencanakan tugas masing-masing karyawan, memonitor kinerja, dan mengkoordinasikan aktivitas kerja dengan semua organisasi yang bekerja sama dengan rekan kerja lain. Karena itu, organisasi mengadakan formulasi komite pengarahan dan melibatkan sejumlah konsultan serta auditor dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mendiskusikan keputusan tersebut.  Pelayanan pelanggan digunakan untuk memberikan layanan kepada pihak pelanggan bagian internal maupun eksternal. Hal ini memungkinkan pengguna sistem ERP memunculkan peluang. Studi pembelajaran ini memungkinkan kontribusi penggunaan ERP dan hubungan sosial serta post-training self-efficacy adalah hal penting dalam pembelajaran post-learning. Limitasi dari sumber data ini adalah memiliki variabel terbatas yang mempengrauhi pembelajaran post-implementation dan penggunaan ERP, masih terbatas pada akses hubungan sosial dan penggunaan ERP, fakta bahwa karyawan wanita memiliki kemampuan terbatas pada penemuan baru, berfokus pada tahap ERP post-implementation. Penelitian berikutnya terdiri dari pengembangan framework yang komprehensif untuk eksplorasi isu tersebut, memungkinkan koleksi data dari pihak manajemen yang terlibat, mempertimbangkan data primer dan sekunder untuk menghasilkan pengukuran baru. Selain itu, organisasi melakukan proses evaluasi terhadap sistem ERP secara berkelanjutan.

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14.(http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Dey dkk, implementasi ERP menjadi salah satu faktor kritis dalam penelitian manajemen informasi saat ini. Dengan mengembangkan ERP Risk Assessment Framework (RAF) bisa digunakan untuk kesuksesan implementasi ERP dan membantu identifikasi dan mitigasi risiko yang terjadi. ERP dirancang untuk menyediakan proses terintegrasi antar area fungsional dengan alur kerja yang ditingkatkan, standardisasi terhadap praktik bisnis, dan akses secara real-time, data yang terup-to-date. Sistem ERP ini kompleks dan implementasinya penuh tantangan, kompleks, menghabiskan banyak waktu, dan proyek mahal. Proyek ERP mempertimbangkan risiko apakah berhasil atau tidak terhadap faktor organisasi dan teknikal. ERP mengarah ke perubahan yang signifikan terhadap proses bisnis, tugas dan isu yang berkaitan dengan sumber daya manusia. Karena itu, harus dilakukan proses manajemen risiko dengan mengadopsi framework yang terintegrasi dan lebih seimbang sehingga proses analisis dan komtrol mengklasifikasikan risko secara hirarkis. Adapun risiko yang terjadi dalam implementasi sistem ERP adalah

–       Perencanaan dan komunikasi strategi yang tidak efektif

–       Kemampuan tim proyek yang tidak memadai.

Kemungkinan solusi yang dapat dilakukan adalah pendekatan dan proses rekayasa bisnis, yang terdiri dari konfigurasi software secara spesifik, manajemen pelatihan senior dan pengguna akhir, dan mengarahkan orang ke perubahan. Risiko ERP lainnya adalh pengalaman layanan jasa konsultasi yag tidak sesuai, Business Process Reengineering (BPR), pemilihan ERP yang tidak sesuai dan komitmen manajemen top yang kurang. Selain itu, terdapat 6 faktor sebagai faktor kesuksesan implementasi ERP adalah:

  1. Struktur tim proyek
  1. Strategi implementasi
  1. Strategi konversi database
  1. Teknik transisi
  1. Strategi manajemen risiko
  1. Strategi manajemen perubahan

Risiko implementasi ERP terdiri dari 5 area, yaitu

  1. Teknikal

Meliputi mengembangkan kinerja, kualitas, masalah terkait keamanan atau reliabilitas.

  1. Penjadwalan

Berkaitan dengan pencapaian sasaran program yang disesuaikan dengan jadwal

  1. Operasional

Terdiri dari tingkat ketidakpastian dan melibatkan ruang lingkup

  1. Bisnis

Meliputi proyek atau realisasi nyata dari perhitungan ROI, dan lain-lain.

  1. Organisasi

Melibatkan banyak tugas untuk melakukan manajemen dan mitigasi risiko.

Pembelajaran ini masih terbatas pada pengetahuan pengguna yang memungkinkan kontribusi organisasi.

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106.(http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Dalam studi kasus yang dilakukan oleh Gajic dkk, perubahan lingkungan saat ini mengharuskan menggunakan sistem ERP dalam hal transformasikan bisnis dengan dampak minimum pada keuntungan dan transparansi, yang ditanamkan modal teknologi informasi reliabel dan solusi software yang spesifik untuk industri tertentu. ERP adalah sistem informasi yang mengintegrasikan semua informasi bisnis dalam organisasi, memungkinkan kontrol proses dan integral sistem informasi. Pentingnya membangun implementasi ERP, maka memiliki pengaruh terhadap teknologi informasi dan kinerja bisnis dalam sistem. Hal tersebut berpengaruh terhadap faktor analisis CSF. Keuntungannya adalah dapat memberikan nilai investasi yang timbal balik sebagai keberhasilan hasil yang diperoleh organisasi. Metodologi penilaian terhadap pengaruhnya sistem ERP pada key performance indicators (KPI) sistem sehingga dapat dilakukan pengukuran dan identifikasi indikator keberhasilan terhadap implementasi proyek ERP. Penilaian pengaruhnya teknologi informasi terhadap kinerja sistem dibagi dalam bentuk empat kategori:

–       Causal model, berisi hubungan investasi dengan organisasi

–       Contingency model, berisi simulasi pengaruhnya teknologi informasi

–       Process model, berdasarkan review pengaruh karakteristik teknologi informasi

–       Scorecard model, berisi dimensi dalam sistem dan pengaruhnya terhadap organisasi

Proses penelitian ini menggunakan proses analisis CSF untuk identifikasi implementasi ERP.

Untuk proses penelitian yang dapat dilakukan berikutnya adalah proses analisis yang membandingkan antar karakteristik Modul Faktornya. Dengan adanya faktor tersebut, memungkinkan organisasi melakukan bentuk dokumentasi yang sesuai.

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sistem ERP memberikan keuntungan kompetitif bagi organisasi dengan memiliki proses bisnis yang terintegrasi dan mendukung keseluruhan proses utama organisasi, terdiri dari akuntansi, keuangan, manufaktur, dan sumber daya manusia dengan menyediakan platform database dan aplikasi bisnis. Sistem ERP dijadikan sebagai best practice bagi organisasi dalam mengimplementasikan proses bisnis. Untuk beberapa alasan lainnya, ERP ini sebagai proyek inovasi dalam proses bisnis tersebut. Karena itu, dibutuhkan investigasi ERP lebih lanjut pada tahap post-implementation melalui dokumentasi laporan. Dengan adanya hal tersebut, sistem ERP dapat digunakan oleh perusahaan dalam jangka waktu panjang. Adapun faktor-faktor keberhasilan dalam implementasi ERP adalah dukungan manajemen senior dan keterlibatannya dalam proses bisnis, pelatihan pengguna, optimisasi tim proyek, manajemen proyek, kolaborasi/ komunikasi antar departemen, paket ERP yang sudah dipilih, melibatkan perusahaan konsultan dan konsultan eksternal lainnya, manajemen perubahan, orientasi proses, strategi dan sasaran ERP, meminimalkan kustomisasi/ pengaturan, dan integrasi sistem. Dengan faktor tersebut, organisasi dapat menemukan hal-hal penting yang dapat dijadikan sebagai strategi berikutnya. Limitasi dari pembahasan tersebut adalah kinerja ERP sistem yang hanya berfokus pada penelitian tertentu. Untuk penelitian berikutnya, faktor keberhasilan ERP tersebut berdampak pada hasil dalam hal finansial atau sasaran strategis berikutnya.

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Risk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Ramdas dkk, sistem ERP yang diterapkan dalam organisasi memiliki keuntungan dengan tingkat risiko tinggi dan ketika hal tersebut merupakan risiko, organisasi harus mengidentifikasikan, menganalisis, dan menangani risiko. ERP terdiri dari proses bisnis, sistem aplikasi, dan rekayasa kembali proses yang berbeda saling terintegrasi. Sistem ERP ini memiliki keuntungan berupa sistem legacy yang berdiri sendiri, meningkatkan komunikasi antar fungsi bisnis, meningkatkan efisiensi pemrosesan informasi, memperbaiki hubungan pelanggan, dan meningkatkan proses pengambilan keputusan. Risiko yang berpotensi ketika implementasi ERP dalam aspek:

  1. Risiko manajemen, meliputi praktik dan teknik manajemen proyek yang tidak efisien, Pengarahan manajerial yang buruk, Manajemen perubahan yang tidak dikontrol, Manajemen strategi yang tidak dikontrol, Kepemimpinan yang buruk.
  1. Risiko teknologi, meliputi batasan teknologi, kapabilitas sistem TI dan upgrade – maintenance TI yang tidak dikontrol, manajemen sistem legacy yang tidak bagus, kehilangan distribusi informasi atau tidak relasi dengan sistem non-ERP.
  1. Risiko operasional, meliputi BPR yang tidak terkontrol, panduan dan pelatihan yang tidak bagus, sistem komunikasi dan layanan konsultasi yang tidak efektif, dan tingkat ketergantungan TI dan kinerja yang tidak membaik.
  1. Risiko finansial, meliputi manajemen waktu dan biaya dalam proyek tidak efektif, kondisi pasar tidak stabil, kebijakan finansial pemerintahan, dan arus kas – pendanaan.
  1. Risiko lainnya, meliputi persiapan dan implementasi strategi tidak efektif, pilihan ERP yang salah, isu budaya dan lingkungan, risiko hukum dan legal, dan isu lainnya.

Untuk mengatasi risiko tersebut, maka dilakukan upaya, seperti membuat kontrak kerja dengan vendor, prioritaskan risiko, mengembangkan rencana tindakan antisipasi, pengembangan sumber daya manusia, dan pengumuman rencana tersebut kepada pihak stakeholder. Untuk penelitian berikutnya, organisasi perlu memperdalam analisis terhadap manajemen strategi dan sumber daya manusia.

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Menurut Kim dkk, sistem ERP adalah paket sistem software bisnis yang memungkinkan organisasi mengelola sumber daya (material, sumber daya manusia, keuangan, dll) yang lebih efisien dan efektif dengan menyediakan solusi terintegrasi untuk kebutuhan pemrosesan informasi organisasi. sistem ERP mengumpulkan dan mendistribusikan informasi lebih tepat waktu dan membantu manajer meningkatkan kemampuan mereka untuk memroses dan menganalisis informasi. sistem ERP dalam organisasi menggunakan proses audit internal maupun eksternal karena proses tersebut melibatkan ruang lingkup investasi yang berjumlah besar. Sejumlah organisasi melakukan proses investigasi terhadap karakteristrik sistem ERP yang memiliki ruang lingkup besar. Sistem ERP ini membantu organisasi melihat situasi yang sesuai dan membutuhkan infrastruktur yang kondusif untuk melakukan proses audit tersebut. Selain itu, organisasi melakukan pembuatan laporan audit. Keuntungan sistem ERP baik secara berwujud maupun tidak, yaitu pengurangan inventori dan personel yang berlebihan, mampu mengontrol produktivitas, peningkatan manajemen order, pengurangan siklus finansial yang tertutup, pengurangan biaya TI, peningkatan manajemen cash, peningkatan pendapatan/ keuntungan, pengurangan maintenance, akses informasi, meningkatkan proses bisnis baru, responsive pelanggan, integrase, sebagai standardisasi, kapabilitas pelaporan baru, pengontrolan finansial, tidak ada redudansi data. Limitasi dari pembahasan ini adalah sistem ERP yang dilakukan belum mencakup semua proses bisnis dan hanya sebagian kecil, berfokus pada hubungan audit ekternal dibandingkan dengan audit internal. Untuk penelitian berikutnya, sistem ERP dapat dilakukan secara mendalam dan memberikan respons yang tinggi dari pihak audit internal maupun eksternal.

1.  Dampak Implementasi ERP Pada Organisasi dan Hal-hal yang dipersiapkan sebelum dan sesudah Implementasi

Berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh, proses implementasi Enterprise Resource Planning (ERP) memiliki dampak positif dan negatif.

Adapun dampak positif dari implementasi ERP adalah

–       Sistem ERP ini dikembangkan sebagai solusi terbaik bagi organisasi untuk menggantikan sistem lama sehingga aktivitas operasional organisasi dapat berjalan lancar. Organisasi mampu memberikan keputusan yang tepat sesuai dengan prosedur dalam sistem ERP.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Sistem ERP merupakan satu kesatuan software yang terdiri dari lebih dari satu modul, yang terdiri dari Finansial, Penjualan, Pembelian, Sumber Daya Manusia, Produksi, dll dimana antar modulnya terintegrasi satu sama lain sehingga dapat mempermudah proses transaksi. Maka dari itu, organisasi tidak mengalami kesulitan melakukan proses bisnis yang terintegrasi juga.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Sistem ERP yang diimplementasikan dijadikan sebagai ketentuan best practice ketika organisasi ingin mengembangkan sistem lainnya. Sistem ERP ini sudah dilengkapi dengan proses bisnis bersifat sekuensial dan terstruktur.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Implementasi sistem ERP ini disesuaikan kembali dengan kebutuhan pengguna dalam organisasi. Organisasi dapat melakukan kustomisasi/ pengaturan yang sudah memenuhi standard. Hal ini membantu organisasi untuk memaksimalkan penggunaan fitur-fitur lengkap dalam sistem ERP, sehingga pengunaannya lebih fleksibel.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

–       Sistem ERP ini dikembangkan sebagai salah satu bentuk inisiatif dan inovasi bisnis yang mampu meningkatkan strategi bisnis organisasi. Selain itu, sistem ERP ini digunakan sebagai pendukung teknologi sehingga dapat membantu pencapaian sasaran organisasi dan memahami nilai bisnis yang bertambah.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Penggunaan sistem ERP yang berhasil dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, produktivitas, dan kapabilitas, serta mampu menghasilkan dan mengkomunikasikan informasi hasil pengolahan dari sistem ERP secara akurat dan tepat waktu/ real-time.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Implementasi sistem ERP ini mampu memberikan strategi kompetitif sehingga menambah nilai bisnis dan tercipta keunggulan kompetitif dibandingkan dengan pesaing bisnis lainnya.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Dengan adanya implementasi ERP, sistem ini sangat membantu dalam melakukan proses transfer pengetahuan antar pihak manajemen organisasi. Yang akhirnya, pengetahuan tersebut disimpan dalam database yang sudah diproteksi. Hal ini memudahkan transfer praktik TI dalam organisasi sehingga akses lebih mudah.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi mendapatkan nilai investasi yang bernilai besar dan tentunya mendatangkan keuntungan dari sisi finansial maupun non-finansial bagi organisasi itu sendiri.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Berikut ini adalah dampak negatif dalam implementasi ERP.

–       Organisasi perlu mempertimbangkan biaya implementasi ERP yang tergolong mahal karena organisasi harus membeli satu paket modul yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Apabila hanya beli satu modul, maka fitur-fitur yang melibatkan proses bisnis tersebut tidak maksimal dan tidak berfungsi secara keseluruhan.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Tingkat kompleksitas dalam mengelola sistem ERP lebih besar sebab masing-masing modul dalam sistem ERP juga memiliki tingkat kedalaman dan kompleksitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan khusus di bidangnya sehingga pengelolaannya tidak terlalu rumit.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Waktu yang dibutuhkan dalam implementasi ERP lebih banyak karena organisasi harus melakukan proses konversi sistem dari sistem lama ke sistem baru. karena itu, organisasi menghabiskan waktu lama untuk sistem ERP yang akan digunakan. Akibatnya, tingkat fleksibilitasnya kurang bagus.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus melakukan proses restrukturisasi aktivitas operasional saat beralih dari sistem lama ke sistem baru sehingga tingkat keberhasilan yang dicapai kemungkinan besar mengalami kegagalan. Dimana hal tersebut terdapat unsur ketidakpastian.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum implementasi ERP adalah

–       Organisasi perlu mempertimbangkan tingkat kompleksitas dalam penggunaan sistem ERP dan perlu mempelajari lebih lanjut struktur sistem ERP yang diimplementasikan. Hal ini dilakukan sebelum implementasi sehingga organisasi mengetahui sejauh mana posisi organisasi sudah siap untuk menerapkan sistem ERP dalam setiap proses bisnis.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus memastikan bahwa semua karyawan baik yang berada dalam pihak manajemen level atas maupun manajemen level bawah berpartisipasi dalam proyek pengembangan sistem ERP sehingga sistem ERP dapat dikembangkan tanpa kendala sumber daya manusianya.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Sebelum melakukan implementasi sistem ERP, organisasi harus melakukan proses analisis terhadap kebutuhan bisnis saat ini sehingga sistem ERP ini dapat digunakan sesuai dengan fungsi masing-masing departemen. Dari analisis ini, organisasi mampu mengidentifikasikan masalah yang dihadapi dalam penggunaan sistem lama.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus memastikan semua komponen detail organisasi, termasuk waktu yang direncanakan, budget yang dirumuskan, komponen hardware dan software, dan komponen detail TI lainnya mampu mengadopsi sistem ERP. Selain itu, juga memperhatikan spesifikasi TI sesuai dengan sistem ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus memastikan bahwa infrastruktur TI saat ini sangat kondusif dan cocok untuk dilakukan perubahan dalam implementasi sistem ERP sehingga organisasi mampu melakukan proses pengontrolan ketika implementasi sedang berlangsung.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi mengidentifikasikan jawaban terhadap pertanyaan tentang alasan sistem ERP perlu dikembangkan dalam organisasi. Pertanyaan tersebut berupa alasan sistem ERP diadopsi, motif/ bentuk motivasi di balik penerapan sistem tersebut, modul manakah yang harus diimplementasikan terlebih dahulu, dan pertanyaan terkait lainnya.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Sebelum melakukan implementasi sistem ERP, maka organisasi harus mengadakan program training/ pelatihan terhadap pengguna sistem nantinya sebab mereka harus mengerti semua fitur-fitur yang ada dalam organisasi.

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Hal-hal yang perlu dipersiapkan setelah implementasi ERP adalah

–       Organisasi dapat menggunakan analisis CSF untuk melihat faktor keberhasilan dalam setiap proses bisnis. Apabila terjadi kegagalan dalam satu bagian kecil, maka organisasi juga dapat menggunakan CSF untuk identifikasi faktor penyebabnya. CSF ini sangat membantu bagi organisasi untuk melakukan evaluasi terhadap implementasi sistem ERP dalam organisasi yang mencakup semua area departemen organisasi.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi menggunakan metode evaluasi terhadap kinerja organisasi, seperti Balanced Scorecard, ABCD Checklist, Weighted Average, Fuzzy, Data Envelopment Analysis (DEA), Analytical Hierarchy Process (AHP), dan lain-lain untuk melihat kondisi organisasi ketika implementasi sistem ERP berlangsung dan kinerja organisasi yang dihasilkan evaluasi tersebut.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi perlu melakukan bentuk dokumentasi yang sesuai untuk menggambarkan infrastruktur TI dalam organisasi dan memastikan bahwa bentuk dokumentasi tersebut dalam bentuk digital dan hardcopy yang dapat disimpan sebagai referensi untuk proses pengembangan sistem ERP berikutnya. Selain itu, organisasi juga perlu melakukan pelacakan terhadap laporan keuangan dan balance sheet sehingga terjadi keselarasan antar dokumennya.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus melakukan proses perekayasaan ulang terhadap sistem ERP yang sudah diterapkan dalam organisasi. Hal ini dilakukan karena sistem ERP ini dapat mengubah struktur dan budaya organisasi selama ini.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi melakukan proses konfigurasi terhadap sistem sehingga dapat dilakukan kustomisasi yang mempermudah penggunaan sistem kompleks. Maka, fitur yang susah dapat dibuat lebih mudah dan disesuaikan dengan kebiasaan pengguna.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi harus mempertimbangkan proses transfer pengetahuan dimana informasi yang diolah menjadi pengetahuan penting yang nantinya dapat dipakai untuk proses transaksi berikutnya. Karena itu, setelah implementasi sistem ERP, pengetahuan tersebut dapat didistribusikan dengan baik.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi perlu mempertimbangkan nilai investasi yang diperoleh dari sistem ERP yang sudah berhasil diimplementasikan sehingga terjadi proses penambahan nilai dari sisi finansial.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi secara terus-menerus dan berkelanjutan melakukan proses evaluasi terhadap kontrol dan proses bisnis yang dilakukan selama implementasi sistem ERP sehingga sistem ERP tersebut memiliki program follow-up untuk melanjutkan bisnis organisasi.

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Organisasi melakukan proses pengumpulan informasi melalui feedback dari pihak internal maupun eksternal organisasi. Pihak eksternal yang paling mengerti hasil dari proses bisnis yang didapat dari organisasi sedangkan pihak internal organisasi paling mengerti proses bisnis yang terdapat dalam organisasi.

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

2.  Risiko yang dihadapi Bisnis terkait Implementasi ERP

Berdasarkan sumber yang diperoleh, maka risiko bisnis yang berkaitan dengan proses Implementasi ERP adalah

–       Implementasi sistem ERP bisa mengalami kegagalan sehingga proses bisnis dalam organisasi mengalami gangguan sehingga proses transaksi yang dilakukan juga dapat mengalami kegagalan. Karena itu, organisasi perlu mempertimbangkan situasi perusahaan saat itu.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kurangnya tingkat keselarasan antara strategi, struktur, dan proses organisasi. Hal ini terjadi dikarenakan organisasi kesulitan melakukan sinkronisasi strategi masing-masing proses bisnis yang harus dicapai dalam suatu sistem ERP. Tentunya berakibat pada perubahan struktur organisasi dan aktivitas operasional kemungkinan mengalami perubahan.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Ketika implementasi sistem ERP baru langsung diterapkan, maka pengguna sistem dalam organisasi merasa kaku dan belum memahami fitur-fitur sistem ERP secara keseluruhan. Akibatnya, banyak fitur-fitur sistem ERP yang belum digunakan secara efektif dan efisien.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kurangnya kontrol terhadap proyek pengembangan sistem ERP dan implementasi yang dilakukan karena pihak manajemen tidak melakukan proses evaluasi terlebih dahulu terhadap kebutuhan lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Akibatnya, sistem ERP yang dikembangkan dan diterapkan nantinya kurang memadai. Risiko ini terjadi karena kurangnya kontrol dalam tim proyek dan kurangnya kontrol antar karyawan terhadap sistem operasional.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Setelah diimplementasikan sistem ERP, terjadi perubahan pada peran dan tanggung jawab terhadap masing-masing pihak manajemen.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sebagai tambahan, selain risiko bisnis yang harus dihadapi organisasi masih terdapat risiko lain yang berkaitan dengan informasi dan pengembangan proyek sistem secara keseluruhan dalam organisasi adalah

1.     Risiko yang berkaitan dengan kesuksesan informasi dalam hal:

–       Tingkat kepuasan dengan proses pengembangan

Proses pengembangan sistem yang dilakukan dalam organisasi berpengaruh terhadap keahlian tim organisasi, tingkat kompleksitas aplikasi dan pengalaman pengguna. Apabila ada salah satu pihak organisasi yang tidak puas dengan proses pengembangan sistem ERP tersebut, maka pengembangan tersebut terhambat sebab sudah terjadi penolakan dan sistem ERP yang dihasilkan nantinya tidak terpakai.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kepuasan dengan penggunaan sistem

Bentuk risiko ini mempengaruhi tingkat kejelasan peran dan pengalaman pengguna terhadap sistem ERP. Semakin pengguna tidak puas menggunakan sistem ERP tersebut, maka informasi yang dihasilkan tidak memiliki kualitas yang baik dan hasilnya laporan keuangan tidak sesuai standard.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kepuasan dengan kualitas sistem

Adanya faktor penerapan teknologi baru yang mempengaruhi tingkat kepuasan kualitas sistem sehingga hal ini tergantung dari sisi kesiapan organisasi menerima teknologi tersebut. Semua berawal dari kemampuan tim proyek mampu mengembangkan sistem ERP sejauh mana dan kualitas yang mereka pertaruhkan.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Dampak sistem informasi dalam organisasi

Kurangnya dukungan pengguna memberikan dampak negatif terhadap sistem informasi baru yang akan digunakan nantinya.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

2.     Risiko yang berkaitan dengan kesuksesan proyek sistem secara keseluruhan dalam hal:

–       Tingkat kompleksitas aplikasi

Faktor ini menyebabkan biaya implementasi sistem ERP lebih besar ketika melakukan proses akuisisi komponen hardware, software, instalasi atau kompabilitas, konsultasi, dan pelatihan. Selain itu, organisasi belum tentu dapat menjalin hubungan yang baik dengan pihak vendor.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kurangnya pengalaman pengguna

Pengguna yang kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup dapat mempengaruhi tingkat kepuasan terhadap proses pengembangan sistem informasi baru. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang sedikit mengenai sistem ERP, maka pengguna tidak mampu mengoperasikan sistem ERP lebih jauh lagi.

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Kurangnya kejelasan peran dari masing-masing peran individu dalam proyek

Peran dan tanggung jawab masing-masing departemen bisa berubah dikarenakan sistem ERP baru yang mengharuskan kemampuan karyawan mengelola sistem informasi yang lebih detail sehingga faktor ini dapat mempengaruhi tingkat kepuasan penggunaan sistem.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

3.  Kontrol dalam Implementasi ERP, Kelemahan (lacks) dalam Organisasi, Cara menyikapi dan menyelesaikannya

Mengenai proses kontrol dalam implementasi ERP, terdapat 5 bentuk kelemahan (lacks) dalam organisasi dalam makalah tersebut disertai dengan sumber pendukung adalah

  1. Kurangnya keselarasan antara sistem informasi baru dan proses bisnis

Bentuk kelemahan ini terjadi jika organisasi tidak memperhatikan kebutuhan bisnis saat ini yang dikaitkan dengan TI sehingga proses bisnis yang dilakukan selama ini tidak mampu didukung oleh TI baru. Akibatnya, tidak terjadi keseimbangan yang sesuai antara bisnis dengan TI.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

  1. Kehilangan kontrol terkait pengambilan keputusan desentralisasi

Pengambilan keputusan ini sangat penting dilakukan namun hal tersebut dapat menjadi salah satu kelemahan yang dimiliki oleh organisasi. Organisasi harus mempertimbangkan tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak manajemen. Dikarenakan ruang lingkup yang besar, maka dilakukan proses pengambilan keputusan desentralisasi yaitu komunikasi pemikiran atau ide antar manajemen yang terlibat. Karena itu, perlu dilakukan kontrol.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Risiko yang dikaitkan dengan kompleksitas proyek

Tingkat kompleksitas proyek menjadi salah satu bentuk ancaman organisasi dimana organisasi harus memperhatikan waktu yang direncanakan dan perhitungan budget yang harus benar untuk mengembangkan sistem ERP.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Berpotensi kekurangan kemampuan pihak internal organisasi

Bentuk kelemahan ini dapat terjadi jika pihak internal organisasi tidak memperhatikan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki masing-masing pengguna sistem berbeda-beda. Akibatnya, pengguna tidak dapat mengimplementasikan sistem ERP secara maksimal. Organisasi juga kurang mendukung keterampilan karyawan dalam mengelola sistem ERP tersebut.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Terjadi penolakan pengguna

Pengguna sistem yang tidak mampu mengoperasikan teknologi baru kesulitan menerima proses pengembangan sistem ERP. Hal ini terjadi karena karyawan kurang memiliki wawasan pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam mengimplementasikan sistem tersebut. Bahkan, pengguna lebih terbiasa menggunakan sistem lama daripada sistem baru.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Cara untuk menyelesaikan 5 bentuk kelemahan (lacks) yang terjadi dalam organisasi adalah

  1. Kurangnya keselarasan antara sistem informasi baru dan proses bisnis

Solusi yang dilakukan adalah

–       Proses perekayasaan kembali proses bisnis sebagai business initiative

Organisasi harus melakukan proses rekayasa kembali untuk memastikan bahwa sistem ERP yang diterapkan dalam organisasi sudah terstruktur. Dalam peralihan dari sistem lama ke sistem ERP menyebabkan infrastruktur TI berubah dan untuk itu, diperlukan kontrol dari organisasi secara mendalam.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melakukan pengembangan detail spesifikasi yang dibutuhkan

Organisasi mengidentifikasikan dan menggunakan komponen TI baik hardware maupun software sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan sehingga dapat memberikan nilai bisnis yang baru.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melakukan proses pengujian/ testing yang berkaitan dengan implementasi sistem

Tim TI organisasi melakukan pengecekan berupa proses pengujian atau testing terhadap sistem ERP sehingga organisasi mampu mengidentifikasikan masalah teknis yang terjadi ketika sistem ERP siap untuk diterapkan.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melakukan proses pengontrolan terhadap kinerja sistem

Dengan adanya proses pengontrolan, kinerja organisasi terhadap sistem juga diperhatikan. Selain itu, organisasi dapat melakukan proses evaluasi terhadap kesuksesan sistem ERP.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Kehilangan kontrol terkait pengambilan keputusan desentralisasi

Solusi yang dapat dilakukan terkait hal tersebut adalah

–       Mengadakan formulasi komite pengarahan kepada pihak manajemen

Organisasi mengadakan pertemuan antara pihak manajemen masing-masing departemen untuk mengkomunikasikan hasil keputusan yang diambil.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mengadakan pertemuan yang dilakukan oleh sponsor proyek kepada tim proyek

Proses kontrol ini terbantu dengan pertemuan oleh sponsor proyek untuk mengidentifikasikan komponen hardware, software yang diberikan dalam tim proyek yang membantu kelancaran proyek berlangsung. Selain itu, sponsor dalam hal keuangan juga harus dipertemukan dalam rapat sehingga mereka mengetahui sudah sejauh mana progress yang dilakukan dan sebesar apa biaya dikeluarkan dalam proyek tersebut.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melibatkan auditor internal organisasi untuk meminimalkan risiko bisnis terkait dengan kemungkinan kehilangan kontrol dari implementasi sistem ERP

Dengan adanya proses auditor internal dikolaborasikan dengan auditor eksternal, maka hasil dari proses audit dapat memberikan rekomendasi terbaik dalam memajukan bisnis.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Risiko yang dikaitkan dengan kompleksitas proyek

Solusi yang dapat dilakukan adalah

–       Mengadakan formulasi komite pengarahan kepada pihak manajemen

Organisasi mengadakan pertemuan antara pihak manajemen masing-masing departemen untuk mengkomunikasikan hasil keputusan yang diambil.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mendapat dukungan yang penuh dari manajer senior

Tanpa adanya dukungan dari pihak manajemen level atas, maka pengembangan sistem ERP ini tidak dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Oleh karena itu, organisasi harus memperhatikan dukungan yang diberikan pihak manajemen level atas kepada level bawah. Biasanya, dapat berupa motivasi agar tim proyek berhasil mengembangkan sistem ERP.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mengadakan pertemuan oleh sponsor proyek dengan tim proyek

Tanpa adanya dukungan dari pihak manajemen level atas, maka pengembangan sistem ERP ini tidak dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Oleh karena itu, organisasi harus memperhatikan dukungan yang diberikan pihak manajemen level atas kepada level bawah. Biasanya, dapat berupa motivasi agar tim proyek berhasil mengembangkan sistem ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melakukan proses pengembangan rencana implementasi yang lebih detail

Proses kontrol melibatkan rencana implementasi yang lebih detail sehingga rencana tersebut dapat diterapkan secara langsung.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mengelola manajemen proyek yang dilengkapi dengan kemampuan tim proyek yang sesuai dengan bidangnya

Organisasi perlu memperhatikan proyek yang berjalan saat ini sudah didukung dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melibatkan konsultan dan auditor internal organisasi

Dengan menghadirkan konsultan dan auditor organisasi saat ini, maka organisasi dapat mengetahui lingkungan internal maupun eksternal organisasi saat ini dan kedepannya.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Tingkat kompleksitas terhadap sistem ERP dapat diatasi dengan membangun user interface yang bersifat User-friendly

Fitur user interface yang user-friendly membuat pengguna lebih mudah menggunakan sistem tersebut dan nyaman sehingga lebih cepat mengetahui fungsi fitur.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Berpotensi kekurangan kemampuan pihak internal organisasi

Solusi yang dapat dilakukan adalah

–       Melibatkan pihak konsultan eksternal dalam proyek sistem ERP

Organisasi dapat berkonsultasi masalah yang sedang dihadapi dengan konsultan terkait masalah ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Membangun hubungan antara pihak konsultan dengan tim proyek

Hubungan konsultan dan tim proyek yang terbentuk lebih mudah dilakukan proses komunikasi terkait masalah proyek sistem ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mengadakan program pelatihan dalam hal aktivitas kritis dalam sistem ERP

Organisasi perlu melakukan program pelatihan yang dapat diadakan oleh pihak internal maupun eksternal organisasi sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi karyawan sebagai pengguna sistem tentunya.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

  1. Terjadi penolakan pengguna

Solusi yang dapat diberikan adalah

–       Pengguna peduli terhadap dampak proyek sistem ERP sehingga mereka memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap tugasnya

Pengguna mengetahui pengaruh positif dan negatif sistem ERP dalam organisasi, termasuk dampak terhadap individu, dunia kerja, dan organisasi.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Melakukan proses pengembangan rencana komunikasi yang baik dan lancar

Pengguna memiliki hak untuk mendiskusikan rencana proyek kedepannya sehingga membantu organisasi mengembangkan sistem sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Proses isu dalam melakukan proses pelaporan secara reguler untuk memastikan pengguna memiliki informasi penting

Organisasi mengetahui kendala pengguna melalui laporan yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari organisasi.

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Mengusahakan bahwa pengguna memberikan feedback terhadap implementasi sistem ERP baru

Dengan feedback pengguna, organisasi mengetahui alasan penolakan terhadap sistem ERP.

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

4.  Berdasarkan Tabel Matriks Risiko Implementasi ERP dan kontrolnya, Riset tersebut fit dengan Organisasi di Indonesia atau tidak, Hal unik/ Khusus yang diperhatikan/ disikapi jika Implementasi ERP dilakukan di perusahaan Lokal

Berikut ini adalah Tabel Matriks antara risiko implementasi ERP dengan proses kontrolnya.

Berdasarkan tabel Matriks risiko implementasi ERP terkait dengan kontrol, maka riset tersebut memiliki kesesuaian/ fit dengan risiko yang dihadapi organisasi di Indonesia. Berikut ini adalah alasan atas pernyataan sebelumnya.

–       Perusahaan di Indonesia memiliki risiko terhadap implementasi sistem ERP pada umumnya sehingga perlu antisipasi lebih lanjut dan proses audit dan kontrol lebih lanjut terkait dengan sistem ERP.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Perusahaan di Indonesia juga memiliki kendala dalam hal sumber daya manusia yang kurang mampu dan tidak berkeinginan untuk menggunakan sistem ERP baru dikarenakan tingkat kompleksitas yang dimiliki.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Banyak perusahaan di Indonesia belum siap menerima sistem ERP dikarenakan manajemen perubahan yang harus diidentifikasikan terlebih dahulu. Akibatnya, risiko yang terjadi berkaitan dengan dukungan pengguna.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Gagalnya penerapan sistem ERP sering dialami oleh perusahaan di Indonesia karena perusahaan tersebut mengikuti trend atau perkembangan terkini dari kebanyakan organisasi luar Indonesia sehingga tidak mengetahui apakah perusahaan tersebut sudah layak menerapkan sistem ERP.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Hal unik/ khusus yang perlu diperhatikan/ disikapi jika implementasi ERP dilakukan di perusahaan lokal Indonesia adalah

–       Perusahaan di Indonesia harus mempertimbangkan jumlah waktu dan budget yang dihabiskan untuk implementasi sistem ERP.

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Perusahaan harus memperhatikan tingkat kompleksitas sistem ERP dapat diatasi atau tidak.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Segala bentuk risiko harus diidentifikasikan terlebih dahulu sehingga karyawan dalam organisasi mengetahui perubahan yang akan terjadi nantinya ketika implementasi sistem ERP dilaksanakan.

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Perusahaan di Indonesia harus mempertimbangkan situasi perusahaan saat ini dengan melihat struktur dan budaya organisasi yang siap menerima perubahan.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

5.  Saran dan Rekomendasi dalam sumber penelitian (Keterbatasan dan Perbaikan)

Sebelum mendefinisikan rekomendasi, keterbatasan/ limitasi yang dimiliki dalam makalah tersebut yang membahas risiko dan kontrol terhadap implementasi ERP adalah

–       Metode penelitian studi kasus hanya digunakan untuk investigasi satu bagian organisasi saja. Jadi, hanya sedikit partisipasi perusahaan yang ikut terlibat didalam penelitian ini.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Investigasi dari proyek NFMS (New Financial Management System) yang dilakukan sedikit bahkan setelah implementasi NFMS dimana memiliki pandangan berbeda tentang kontrol kritis dan risiko

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Proyek NFMS hanya berhasil diimplementasikan dalam jangka waktu yang sementara. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan dalam ruang lingkup yang masih kecil.

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       NFMS hanya terbatas pada satu bagian modul meskipun modul dalam paket sistem ERP sangat banyak.

Sumber: Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017) 

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Berdasarkan risiko bisnis terkait dengan proses implementasi ERP yang sudah dijabarkan sebelumnya, maka saran atau rekomendasi sebagai proses perbaikan dalam penelitian selanjutnya terkait implementasi ERP yang dapat diberikan disertai dengan sumber-sumber pendukung adalah

–       Ketika penelitian berikutnya menemukan tambahan bukti pada risiko dan diasosiasikan dengan kontrol dalam implementasi ERP terhadap perubahan, maka penelitian berikutnya dapat dilakukan sehingga menambah pemahaman mengani risiko dan kontrol terhadap organizational setting.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Penelitian berikutnya dapat dilakukan dengan memeriksa korelasi/ hubungan antara risiko dan kontrol yang diidentifikasi lewat survey dalam organisasi yang mengimplementasikan sistem ERP.

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Pembelajaran longitudinal dari implementasi sistem ERP, dan penggunaan subsekuen, akan menyediakan bukti dari munculnya risiko dan kontrol.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Tugas berikutnya yang dapat dilakukan dengan memberikan kontribusi risiko bisnis dan kontrol terkait untuk kesuksesan implementasi sistem ERP. Sekaligus melakukan proses perbaikan terhadap kinerja organisasi.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Penelitian lebih lanjut bisa memeriksa keterlibatan audit internal yang lebih diperluas dan ketepatan waktu dalam implementasi sistem ERP.

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Dalam pengembangan penelitian berikutnya, mampu memberikan solusi berupa strategi kompetitif bisnis organisasi yang baru sehingga dapat menambah nilai bisnis. Selain itu, penelitian yang dilakukan selanjutnya mampu memberikan hasil analisis yang lebih mendalam yang terdiri dari berbagai pandangan yang berbeda. Dengan demikian, dapat menghasilkan peluang bisnis dalam proses penelitian berkutnya.

Sumber: Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

–       Untuk penelitian berikutnya, organisasi perlu memperhitungkan pembelian software dari pihak vendor ERP sehingga terdapat karakteristik vendor yang baik untuk dipilih organisasi dari segi kualitas, hasil produk, dan struktur sistem ERP yang ditawarkan.

Sumber: Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Sumber: Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

References

Ahmed Elragal, Moutaz Haddara. (2013). The Impact of ERP Partnership Formation Regulations on the Failure of ERP Implementation. Elsevier. 527-535. (https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.059, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Amel Chaabouni & Imene Ben Yahia (2014) Contribution of ERP to the decision making process through knowledge management, Journal of Decision Systems, 23:3, 303-317. (http://dx.doi.org/10.1080/12460125.2014.886498, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Gordana Gajic, Stevan Stankovski, Gordana Ostojic, Zdravko Tesic & Ljubomir Miladinovic (2014) Method of evaluating the impact of ERP implementation critical success factors – a case study in oil and gas industries, Enterprise Information Systems, 8:1, 84-106. (http://dx.doi.org/10.1080/17517575.2012.690105, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Heber Lombardi Carvalho & Fabio Müller Guerrini (2017): Reference model for implementing ERP systems: an analytical innovation networks perspective, Production Planning & Control. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2016.1273409, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Huey-Wen Chou, Hsiu-Hua Chang, Yu-Hsun Lin, Shyan-Bin Chou. (2014). Drivers and Effects of Post-Implementation Learning on ERP Usage. Elsevier. (http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2014.03.012, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Jian Cao, Andreas I. Nicolaou, Somnath Bhattacharya. (2013). A Longitudinal Examination of Enterprise Resource Planning System Post-Implementation Enhancements. Smerican Accounting Association: Journal of Information Systems. Vol. 27, No. 1, 13-39. (https://dx.doi.org/10.2308/isys-50398, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Jian Guo Wan, Ting Liao Li. (2016). An Applicable Approach for Performance auditiong in ERP. EDP Sciences. (https://doi.org/10.1051/matecconf/20164401048, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Jongkyum Kim, Andreas I. Nicolaou, Miklos A. Vasarhelyi. (2013). The Impact of Enterprise Resource Planning (ERP) System on the Audit Report Lag. American Accounting Association. Vol 10. 63-88. (http://dx.doi.org/10.2308/jeta-50712, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Maria do Ceu Alves, Sergio Ivo Amaral Matos. (2013). ERP Adoption by Public and Private Organizations – A Comparative Analysis of Successful Implementations. Journal of Business Economics and Management. 14:3. 500-519. (http://dx.doi.org/10.3846/16111699.2011.652979, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Mustafa Agaoglu, E. Serra Yurtkoru, Asli Kucukaslan Ekmekci. (2015). The Effect of ERP Implementation CSFs on Business Performance: An Empirical Study on Users’ Perception. Elsevier. 35-42. (https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.326, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Prasanta Kumar Dey, Ben Clegg, Walid Cheffi. (2013). Risk Management in Enterprise Resource Planning Implementation: A New Risk Assessment Framework, Production Planning & Control: The Management of Operations. 24:1. 1-14. (http://dx.doi.org/10.1080/09537287.2011.597038, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Ramdas S. Wanare, Amar R. Mudiraj. (2014). Rosk Management in ERP Implementation. International Journal of Research in Computer and Communication Technology. Vol 3. Issue 7. (Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

Severin V. Grabski, Stewart A. Leech, Bai Lu. (2001). Risks And Controls in The Implementation of ERP Systems. The International Journal of Digital Accounting Research. Volume 1. Number 1. 51-78. (http://dx.doi.org/10.4192/1577-8517-v1_3, Diakses Tanggal 22 Maret 2017) àsumber dari soal tugas

Young Mok Ha & Hyung Jun Ahn (2014) Factors affecting the performance of Enterprise Resource Planning (ERP) systems in the post-implementation stage, Behaviour & Information Technology, 33:10, 1065-1081, (http://dx.doi.org/10.1080/0144929X.2013.799229, Diakses Tanggal 21 Maret 2017)

CATHERINE                          : 1801621931

AKBAR NUZUL PUTRA      : 1801622032

EMAN MULYAMAN             : 1801622202

RIYAN LEANDROS              : 1801625311

Tahap Audit IT (Case Study)


(Case Study)

PT Bank Perkreditan Rakyat Maju Bersama adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perbankan.

PT BPR Maju Bersama saat ini memiliki sistem informasi namun belum menggunakan ERP system. Sistem informasi tersebut di develop oleh tim TI PT BPR Maju Bersama. Sistem informasi yang dimiliki oleh perusahaan sudah terintegrasi, namun kemudian diperoleh informasi bahwa setiap program aplikasi menggunakan bahasa program development yang berbeda. Program aplikasi untuk penghitungan gaji dan bonus dibangun dengan menggunakan bahasa program Oracle, sedangkan untuk program akuntansi menggunakan program aplikasi yang dibangun dengan Visual C.

Data untuk penghitungan insentif dan bonus tim marketing, di-entry, proses dan output-nya dikerjakan oleh tim TI. Hasil penghitungan insentif dan bonus tersebut didistribusikan ke bagian Akuntansi dan keuangan untuk dibayarkan kepada anggota tim. Menurut manajer TI, perhitungan insentif dan bonus sudah pasti tanpa kesalahan karena merupakan output komputer dan tidak memerlukan verifikasi.

Server PT Majuku berada di kantor pusat yang berada di Karawang sedangkan cabang tidak memiliki server langsung menggunakan WAN yang dikoneksikan melalui satelit. Kepada anggota tim diberikan fasilitas untuk melakukan transaksi menggunakan fasilitas internet.

Perusahaan belum menyusun BCP. Namun berdasarkan kebiasaan, data yang ada pada server di back up sebulan sekali dalam bentuk softcopy dan hardcopy yang disimpan pada gudang kantor pusat. Program pada PT BPR Maju Bersama tidak menggunakan audit log dengan alasan membuat penuh memory pada server. Password tingkat tertinggi pada program perusahaan dipegang oleh Manajer TI.

Apabila Anda adalah auditor yang ditugaskan untuk melakukan audit terhadap sistem informasi perusahaan tersebut:

Risiko yang muncul berdasarkan kasus di atas!

  • Penggunaan bahasa program yang berbeda dapat menimbulkan risiko terjadinya kegagalan komunikasi antara satu program dengan program yang lainnya. Akibatnya output dari program tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu dengan adanya perbedaan bahasa program akan membutuhkan tenaga lebih pada saat melakukan perbaikan ataupun upgrade sistem tersebut.
  • Penghitungan insetif dan bonus tim marekting yang dilakukan oleh IT secara keseluruhan dapat menimbulkan resiko kecurangan karena tidak adanya kontrol dari pihak/departemen lain. Ditambah lagi dengan adanya pernyataan dari menejer IT yang menyatakan tidak diperlukannya verifikasi terhadap output perhitungan tersebut.
  • Tidak adanya server yang terdapat pada cabang memiliki resiko kerusakan bahkan kehilangan data pada saat “perjalanan”data tersebut menuju server dikantor pusat yang hanya menggunakan WAN.
  • Belum disusunnya BCP pada perusahaan beresiko tinggi pada saat terjadinya bencana. Pada saat terjadi bencana, kegiatan perusahaan harus dapat kembali berjalan normal dalam waktu yang singkat. Jika BCP belum dilaksanakan, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan sistem yang digunakan kembali normal.
  • Audit log berfungsi untuk mengetahui setiap kegiatan audit pada sistem perusahaan. Jika tidak ada audit log maka perusahaan tidak dapat mengetahui setiap kegiatan yang dilakukan pada program.

Tahap-tahap audit yang dilakukan:

  1. Tahapan Perencanaan.
    Sebagai suatu pendahuluan mutlak perlu dilakukan agar auditor mengenal benar obyek yang akan diperiksa sehingga menghasilkan suatu program audit yang didesain sedemikian rupa agar pelaksanaannya akan berjalan efektif dan efisien.
  2. Mengidentifikasikan resiko dan kendali.
    Untuk memastikan bahwa qualified resource sudah dimiliki, dalam hal ini aspek SDM yang berpengalaman dan juga referensi praktik-praktik terbaik.
  3. Mengevaluasi kendali dan mengumpulkan bukti-bukti.
    Melalui berbagai teknik termasuk survei, interview, observasi, dan review dokumentasi.
  4. Mendokumentasikan.
    Mengumpulkan temuan-temuan dan mengidentifikasikan dengan auditee.
  5. Menyusun laporan.
    Mencakup tujuan pemeriksaan, sifat, dan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan.

Rekomendasi perbaikan TI PT BPR Maju Bersama!

  1. Sebaiknya mengguanakan bahasa program yang sama dalam membangun sistem informasi perusahaan. Sehingga sistem dapat memproses data dalam waktu yang lebih singkat dan efektif.
  2. Proses penghitungan insentif dan bonus tim marketing sebaiknya tidak dilakukan secara keseluruhan oleh IT. Entry data lebih baik dilakukan oleh HRD/SDM. Kemudian IT melakukan proses terhadap data tersebut. Selanjutnya output yang didapat harus dilakukan verifikasi bersama antara HRD?SDM, IT dan bagian Keuangan.
  3. Membangun server kecil pada setiap cabang/regional. Hal ini bertujuan untuk meringankan kerja server  pada kantor pusat. data-data penting dikirim langsung dari cabang ke server kantor pusat. Sedangakan data sekunder disimpan terlebih dahulu pada server cabang/regional yang kemudian dilakukan singkronisasi pada periode tertentu. Sehingga traffic transaksi data melalui WAN ke server ke kantor pusat akan lebih lancar dibandingkan dengan mengirimkan secara langsung.
  4. Penyusunan BCP harus segera dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengatasi akibat yang muncul dari suatu bencana. Dengan adanya BCP, setiap masalah yang muncul dapat segera ditangani dan ditindak lanjuti dengan lebih cepat.
  5. Penggunaan audit log dapat membantu auditor pada saat melakukan audit terhadap sistem informasi perusahaan. Agar tidak membuat memory server penuh, bisa dengan menentukan berapa lama periode audit log yang akan disimpan

Audit TI dan E-Cash


Apa yang dimaksud dengan Audit Teknologi Informasi (TI)? Apa saja cakupannya atau yang terlibat didalamnya?

Audit Teknologi Informasi merupakan aktivitas pengujian terhadap pengendalian dari kelompok-kelompok unit infrastruktur dari sebuah sistem/teknologi informasi. Pengujian/evaluasi terhadap kelompok-kelompok unit infrastruktur tersebut dapat dilakukan atas audit keuangan, audit internalmaupun obyek-obyek lain yang terkait dengan pengembangan/pembangunan sebuah sistem informasi.

Sebelumnya IT audit dikenal sebagai EDP (electronic data processing) audit atau audit pengolahan data secara elektronik. Saat itu pengujian lebih menitikberatkan pada pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti pengembangan, penerapan serta operasional sistem informasi.  Audit TI (teknologi informasi) pun dikenal sebagai ADP (automated data processing) audit dan computer audit.

Perkembangan teknologi informasi, perangkat lunak, sistem jaringan dan komunikasi dan otomatisasi dalam pengolahan data berdampak perkembangan terhadap pendekatan audit yang dilakukan, tiga pendekatan yang dilakukan oleh auditor dalam memeriksa laporan keuangan klien yang telah mempergunakan Sistem Informasi Akuntansi yaitu (Watne, 1990):

  • Auditing Around the Computer.

Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mula-mula ditempuh oleh auditor. Dengan pendekatan ini komputer yang digunakan oleh perusahaan diperlakukan sebagai Black Box. Asumsi yang digunakan dalam pendekatan ini adalah bila sampel output dari suatu sistem ternyata benar berdasarkan masukan sistem tadi, maka pemrosesannya tentunya dapat diandalkan. Dalam pemeriksaan dengan pendekatan ini, auditor melakukan pemeriksaan di sekitar komputer saja.

  • Auditing with the Computer.

Pendekatan ini digunakan untuk mengotomatisati banyak kegiatan audit. Auditor memanfaatkan komputer sebagai alat bantu dalam melakukan penulisan, perhitungan, pembandingan dan sebagainya. Pendekatan ini menggunakan perangkat lunak Generalized Audit Software, yaitu program audit yang berlaku umum untuk berbagai klien.

  • Auditing Through the Computer.

Pendekatan ini lebih menekankan pada langkah pemrosesan serta pengendalian program yang dilakukan oleh sistem komputer. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa jika program pemrosesan dirancang dengan baik dan memiliki aspek pengendalian yang memadai, maka kesalahan dan penyimpangan kemungkinan besar tidak terjadi.pendekatan ini biasanya diterapkan pada sistem pengolahan data on-line yang tidak memberikan jejak audit yang memadai.

Mengapa kontrol TI  dan audit begitu penting di lingkungan virtual saat ini?

Ron Weber, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, Monash University , dalam salah satu bukunya: Information System Controls and Audit (Prentice-Hall, 2000) menyatakan beberapa alasan penting mengapa audit TI perlu dilakukan, antara lain:

  • Kerugian akibat kehilangan data
  • Kesalahan dalam pengambilan keputusan
  • Risiko kebocoran data
  • Penyalahgunaan Komputer
  • Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan
  • Tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak computer

Apa saja masalah utama terkait kontrol dan audit di lingkungan global saat ini?

Masalah utama terkait kontrol dan audit di lingkungan global saat ini

  • Masalah Untuk Lingkungan Komputer Mikro

Pengendalian umum dalam perusahaan yang lebih kecil pada umumnya sedikit kurang efektif dibanding dalam lingkungan TI yang lebih rumit. Seringkali, tidak ada IT personil yang khusus atau klien bersandar pada keterlibatan berkala konsultan TI untuk membantu dalam memasang dan memelihara perangkat keras dan lunak. Seringkali, auditor dari klien yang menggunakan komputer mikro dalam lingkung- an pengendalian umum yang tidak terlalu canggih melakukan sebagian besar audit mereka di sekitar komputer. Sistem ini sering menghasilkan jejak audit yang memadai yang mengijinkan auditor untuk merekonsiliasikan dokumentasi sumber masukan untuk keluaran.

Risiko lain dengan komputer mikro adalah bilangnya data dan program oleh karena virus komputer, yang dapat menyebar ke program lain dan sistem keseluruhan. Virus tertentu dapat merusak disk arsip atau menutup keseluruhan  jaringan komputer. Memperbarui perangkat lunak pelindung virus secara teratur yang secara terus menerus menyaring penyebaran virus meningkatkan pengendalian.

  • Masalah Lingkungan Jaringan

Penggunaan jaringan yang makin meledak yang menghubungkan peralatan seperti komputer mikro, komputer jangkauan menengah, mainframe, stasiun kerja, server, dan pencetak sedang mengubah fungsi TI untuk banyak bisnis. Jaringan area lokal (Local Area Network/LAN) menghubungkan peralatan di dalam lingkungan  ba- ngunan yang kecil atau tunggal dan hanya digunakan untuk tujuan intra  perusahaan. Penggunaan umum LAN adalah untuk memindahkan data dan program dari satu komputer atau stasiun kerja ke yang lainnya untuk mengijinkan semua alat untuk berfungsi bersama-sama. Jaringan Area Luas (WIde Area Network/WAN) menghu- bungkan peralatan dalam daerah geografis yang lebih besar, termasuk operasional global.

  • Masalah Sistem Manajemen Database

Auditor sering menghadapi aplikasi akuntansi yang menggunakan sistem mana- jemen database untuk memroses transaksi dan memelihara arsip data. Sistem mana- jemen database mengijinkan klien untuk menciptakan database yang berisi informasi yang dapat digunakan bersama dalam berbagai aplikasi. Dalam lingkungan non- database, masing-masing aplikasi berisi arsip data mereka sendiri, sedangkan dalam sistem manajemen database, banyak aplikasi berbagi arsip. Klien menerapkan sistem manajemen database untuk mengurangi kelebihan data, meningkatkan pengendalian atas data, dan menyediakan informasi yang lebih baik untuk pengambilan keputusan dengan pengintegrasian informasi seluruh fungsi dan departemen. Sebagai contoh, data pelanggan, seperti alamat dan nama pelanggan, dapat digunakan bersama di fungsi penjualan, kredit, akuntansi, pemasaran, dan  pengiriman, yang menghasilkan pengurangan biaya yang penting. Perusahaan sering mengintegrasikan sistem mana- jemen database ke seluruh organisasi. Program demikian disebut perangkat lunak perusahaan.

  • Masalah Untuk Sistem E-commerce

Perusahaan yang menggunakan sistem e-commerce untuk melakukan transaksi  bisnis secara elektronis menghubungkan sistem akuntansi internal mereka ke sistem yang dipelihara oleh pihak luar, seperti pelanggan dan pemasok. Sebagai hasilnya, risiko yang dihadapi suatu perusahaan saat terlibat dengan aktivitas e-commerce sebagian bergantung pada seberapa baik mitra e-commerce-nya mengidentifikasi dan mengatur risiko dalam sistem TI mereka sendiri. Untuk mengatur risiko interdepen- densi ini, perusahaan harus memastikan bahwa micra bisnis mereka secara efektif mengatur risiko sistem TI sebelum melaksanakan bisnis dengan mereka secara elektronis

Apa yang dimaksud dengan E-Cash? Apa saja yang menjadi perhatian kontrol TI terkait dengan E-Cash?

E-Cash (Uang Elektronik) adalah uang yang digunakan dalam transaksi Internet dengan cara elektronik. Biasanya, transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan komputer (seperti internet dan sistem penyimpanan harga digital). Electronic Funds Transfer (EFT)adalah sebuah contoh uang elektronik.

Uang elektronik memiliki nilai tersimpan (stored-value) atau prabayar (prepaid) dimana sejumlah nilai uang disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilai uang dalam e-money akan berkurang pada saat konsumen menggunakannya untuk pembayaran. E-money dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran (multi purpose) dan berbeda dengan instrumen single purpose seperti kartu telepon.

Mengapa Auditor TI perlu mengetahui tentang lingkungan hukum Sistem Informasi (SI)?

Auditor TI perlu mengetahui tentang lingkungan hukum Sistem Informasi (SI) karena untuk menjadi sorang auditor perlu mengetahui batasan-batasan dan aturan yang berlaku pada bidang yang akan dikontrol. Hukum sistem informasi juga akan membantu auditor menemukan penyimpangan dari pelaksanaan TI itu sendiri. Sehingga dapat mengurangi resiko yang dapat muncul dikemudian hari.


Referensi:

PENGHULU jo BUNDO KANDUANG (1)


Kepemimpinan niniak-mamak di Ranah Minangkabau sangat berperan penting dalam menyukseskan pembangunan disegala bidang, terutama dalam lingkungan anak-kemenakan dan koroang kampung. Hal ini telah dilaksanakan dengan baik dengan hasil positif dari dahulu sampai sekarang.

Tapi sangat disayangkan, kepemimpinan yang baik ini telah dirusak pada zaman penjajahan yang lalu, sehingga tidak kurang menimbulkan efek-efek negatif karena penyalahgunaan dari kepemimpinannya itu, yang akhirnya mengakibatkan semakin berkurangnya kewibawaan niniak-mamak disebagian besar nagari di Minangkabau.

Tidak ada jalan lain untuk mengembalikan kewibawaan seorang penghulu di tengah-tengah masyarakat anak-kemenakannya, ialah dengan kembali melaksanakan tugas kepenghuluannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh adat Minangkabau di samping melengkapi dirinya dengan pengetahuan dalam segala bidang.

Bagian 1: PENGHULU

Penghulu di dalam adat adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab kepada masyarakat (anak-kemenakan yang dipimpinnya). Pada pribadi seorang penghulu melekat lima macam fungsi kepemimpinan, yakni:

  1. Sebagai anggota masyarakat;
  2. Sebagai seorang bapak dalam keluarga sendiri;
  3. Sebagai seorang pemimpin (mamak) dalam kaumnya;
  4. Sebagai seorang sumando di atas rumah istrinya;
  5. Sebagai seorang niniak-mamak dalam nagarinya.

Walaupun fungsi penghulu merupakan gelar yang diterima secara turun-temurun yang harus dipangku oleh seorang anak laki-laki yang bertali-darah dengan gelar pusako yang bersangkutan, tetapi bukan berarti adat tidak memerlukan persyaratan lain bagi yang akan menjadi pemimpin. Seperti kata-kata adat:

Batuang tumbuah di buku, karambia tumbuah di mato,

Nan batunggua bapanabangan, nan basasok bajurami,

Dimano batang tagolek, di sinan cindawan tumbuah,

Dimano tanah tasirah, di sinan tambilang makan.

Maka di dalam adat Minangkabau, seseorang yang akan menjadi penghulu selain dari syarat yang tersebut di atas, sangat diutamakan yakni:

  1. Seseorang yang mempunyai sifat yang benar, lurus dan jujur, bertanggung jawab, berani atas kebenaran. Tidak mempunyai sifat pendusta.
  2. Cerdas, berpendidikandan berpengetahuan terutama di bidang:
    • Adat Minangkabau dengan segala persoalannya;
    • Syarak dengan segala pengalamannya
    • Undang-undang, terutama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
    • Jujur dan dipercayai, terjauh dari sifat yang jelek seperti penipu, pendusta, pembohong, penjudi, pemabuk, pemboros dan sebagainya.
    • Faseh berbicara. Bisa meyakinkan orang lain mengenai maksud baik dalam suatu rencana yang dipunyai, dan meyakinkan orang lain dengan lidahnya tentang suatu kebaikan pekerjaan yang akan dilaksanakan dan rencana yang akan dikerjakan dalam perbaikan segala bidang dalam masyarakat

Kemudian disempurnakan dengan sifat sabar dan lemah-lembut. Karena lemah-lembut dalam perkataan menjadi kunci bagi setiap hati manusia.

Sumber: 
PEGANGAN PENGHULU, BUNDO KANDUANG,
DAN PIDATO ALUA PASAMBAHAN ADAT DI MINANGKABAU
Penulis: H. Idrus Hakmy Dt. Rajo Panghulu
Tahun: 1984

Teka-Teki “SUPERSEMAR”


Ada yang tau gga hari ini hari apa??
Ya benar, hari Jum’at 11 Maret 2011…
Tapi ada yang tau gga apa yang terjadi pada 45 tahun yang lalu???

Begini ceritanya…..
Pada 45 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 11 Maret 1966, Presiden Ir. Soekarno memberi mandat kepada Panglima Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) melalui sebuah surat perintah yang diberi nama Surat Perintah Sebelas Maret atau disingkat SUPERSEMAR.

Surat Perintah Sebelas Maret

Berikut ini cuplikasn dari SUPERSEMAR:

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SURAT PERINTAH

I. Mengingat:
1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik nasional maupun Internasional
1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966

II. Menimbang:
2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan djalannja Revolusi.
2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakjat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala adjaran-adjarannja III.

Memutuskan/Memerintahkan:
Kepada:
LETNAN DJENDERAL SOEHARTO,
MENTERI PANGLIMA ANGKATAN DARAT

Untuk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:

  1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.
  2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknja.
  3. Supaya melaporkan segala sesuatu jang bersangkuta-paut dalam tugas dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.

IV. Selesai.

Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/
MANDATARIS M.P.R.S.
SOEKARNO

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Proses Terbit SUPERSEMAR…
Menurut versi resmi, awalnya terbitnya SUPERSEMAR terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama “Kabinet 100 menteri”. Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden’ Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak “pasukan liar” atau “pasukan tak dikenal” yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad di bawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai skenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).

Mayor Jendral Soeharto kemudian mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 WIB.

Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana saat itu ia menerima telepon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai surat Supersemar itu tiba. (Wikipedia)

Dua Aspek SUPERSEMAR…
Setelah 44 tahun dikeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), kasus ini masih menyimpan misteri.Teks aslinya belum terdapat pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sedangkan proses mendapatkan surat itu semakin jelas.
Dokumen otentik dan cara memperolehnya dapat diibaratkan dua sisi mata uang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan.Kedua aspek itu seyogianya diulas secara berimbang. Dokumen Supersemar yang ada pada Arsip Nasional Republik Indonesia terdiri dari beberapa versi. Namun, sesungguhnya perbedaan antarnaskah,misalnya mengenai tempat penandatanganannya apakah Jakarta atau Bogor, tidaklah mengubah substansinya. Demikian pula jumlah halaman surat perintah tersebut, satu atau dua halaman,itu hanya soal teknis. Yang penting dipahami bahwa awal 1966 itu tampaknya belum ada mesin fotokopi di lingkungan Kostrad.

Dengan demikian, surat itu distensil atau dengan kata lain diketik ulang. Bila demikian halnya, maka tidak aneh jika terdapat berbagai perbedaan. Bahkan, pernyataan Ben Anderson bahwa Supersemar itu tertulis dalam kertas surat dengan kop MBAD juga masuk akal. Boleh jadi surat tersebut diketik ulang oleh seorang staf MBAD dengan kertas surat resmi yang berlogo AD.Pada masa itu pengetikan surat biasanya dilakukan dengan memakai kertas karbon (lembar di bawah karbon disebut tindasan). Dua nama pernah disebut sebagai pengetik surat itu yakni Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur dan Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa Letkol Ali Ebram.

Mana yang benar? Mungkin saja keduanya karena surat itu diketik minimal dua kali yakni draf dan surat asli. Jenderal M Jusuf adalah salah seorang pelaku sejarah keluarnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Setelah saksi lainnya meninggal, maka harapan tertumpu kepada sang jenderal yang pernah menjadi panglima ABRI ini.Dia mengatakan bahwa rahasia ini akan terbuka setelah dia tiada. Maka penerbitan buku biografi Jendral M Jusuf, Panglima Para Prajurit ditunggu masyarakat. Jusuf dalam biografinya mengungkapkan bahwa dia memiliki konsep pertama, konsep kedua (setelah dikoreksi Soebandrio dan Chairul Saleh), dan tindasan kedua dari surat perintah tersebut. Jadi, surat itu diketik dengan menggunakan kertas karbon sehingga selain dari surat asli terdapat pula tindasan pertama dan kedua.

Yang asli diserahkan kepada Basuki Rachmat, tindasan pertama dipegang Sabur, dan yang kedua diberikan kepada Jusuf.Tindasan pertama dan kedua tidak ditandatangani oleh Presiden Sukarno. Seandainya hal ini benar,seyogianya keluarga M Jusuf dapat menyerahkan arsip-arsip tersebut kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Namun, peluncuran buku yang diselenggarakan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Jakarta tanggal 10 Maret 2006 menjadi semacam antiklimaks karena setelah itu Djoko Utomo Kepala ANRI menyatakan keraguannya terhadap keotentikan surat yang menggunakan logo Garuda Pancasila itu.

Menurut Djoko Utomo, surat yang dikeluarkan Presiden RI tanggal 11 Maret 1966 itu berlambangkan Padi-Kapas seperti pada undang-undang yang ditandatangani oleh presiden. Sedangkan lambang Garuda Pancasila digunakan oleh menteri/departemen. Masalahnya apakah di Istana Bogor selalu tersedia kertas surat yang berkop Padi-Kapas ini karena biasanya surat-surat resmi presiden dikeluarkan di Jakarta. Meskipun dokumen asli Supersemar itu belum ditemukan,toh beberapa versi yang ada sudah mengungkapkan substansi dari perintah tersebut.Yang jadi masalah bahwa ada bagian-bagian dari surat perintah itu yang tidak dijalankan Soeharto. Soeharto tidak melaporkan hasil pekerjaannya kepada Presiden Soekarno.

Aspek kedua yaitu proses memperoleh surat tersebut yang perlu dijelaskan kepada masyarakat terutama kepada para siswa.Surat itu diberikan bukanlah atas kemauan dan keinginan Presiden Soekarno. Beliau menulis surat itu di bawah tekanan.Tiga Jenderal datang ke Istana Bogor untuk meminta surat tersebut. Sebelum berangkat ke Bogor ketiga perwira tinggi itu terlebih dahulu berunding dengan Soeharto di rumahnya di Jalan Haji Agus Salim,Jakarta. Tekanan yang diberikan kepada Presiden Soekarno tergambar dalam kesaksian yang ditulis Soebandrio.

Ketika surat itu dimanfaatkan untuk membubarkan PKI esok harinya (bahkan surat pembubaran partai komunis nomor tiga terbesar di dunia itu dikeluarkan Soeharto atas nama Presiden Soekarno dini hari tanggal 12 Maret 1966) terkesan bahwa Supersemar memang sengaja dipersiapkan untuk itu. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa Soeharto telah berani menantang Presiden Soekarno. Dengan kata lain, setelah keluarnya Supersemar secara de facto kekuasaan telah beralih dari tangan Presiden Soekarno kepada Soeharto.

 

Supersemar Diberikan di Bawah Tekanan
Tanggal 9 Maret 1966 malam Hasjim Ning dan M Dasaad, dua pengusaha yang dekat dengan Presiden Soekarno, diminta oleh Asisten VII Men/ Pangad Mayjen Alamsjah Ratu Perwiranegara untuk juga membujuk Presiden Soekarno agar menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto.

Jelas upaya ini sepengetahuan Letjen Soeharto. Keduanya kemudian mendapat surat perintah yang ditandatangani sendiri oleh Men/ Pangad Letjen Soeharto yang menyatakan bahwa mereka adalah penghubung antara Presiden Soekarno dan Men/ Pangad.Keduanya berhasil bertemu dengan Presiden Soekarno pada 10 Maret 1966 di Istana Bogor.Hasjim Ning menyampaikan pesan tersebut. Presiden Soekarno menjadi marah dan melempar asbak kepadanya sambil berkata: “Kamu juga sudah pro- Soeharto!”Dari sini terlihat bahwa usaha membujuk Soekarno telah dilakukan, kemudian diikuti dengan mengirim tiga orang jenderal ke Istana Bogor. Sementara itu mantan Kepala Staf Kostrad Kemal Idris mengajukan satu kalimat.

Katanya, ”Kalau saya tarik pasukan itu dari Istana, Presiden Soekarno tidak akan lari, kan?” Dengan kata lain, dia ingin mengatakan,kalau ”pasukan liar” yang berada di bawah komandonya ditarik dari sekeliling Istana belum tentu ada Supersemar. Seperti diketahui, Brigjen Kemal Idris pada waktu itu mengerahkan sejumlah pasukan dari Kostrad dan RPKAD untuk mengepung Istana.Tujuan utamanya adalah menangkap Dr Soebandrio yang ditengarai bersembunyi di kompleks Istana.Memang pasukan-pasukan itu mencopot identitas mereka sehingga tidak mengherankan Komandan Tjakrabirawa Brigjen Sabur melaporkannya sebagai ”pasukan tidak dikenal” kepada Presiden Soekarno.

Sebetulnya banyak faktor yang terjadi sebelum tanggal 11 Maret 1966 yang semua menjadikan semacam ”tekanan” yang berfokus terhadap Presiden Soekarno. Dan puncak dari tekanan itu datang dari ketiga jenderal di atas. Bila tidak ada demonstrasi dan pasukan tak dikenal yang mengepung Istana di Jakarta tentu peristiwa keluarnya Supersemar di Bogor tidak terjadi. (Koran SINDO 09/03/10)

%d bloggers like this: